Warga Antusias Ziarah Makam Syekh Hamzah Fansuri

  • 20 Feb 2026 10:42 WIB
  •  Aceh Singkil

RRI.CO.ID, Subulussalam : Kawasan wisata religi Makam Syekh Hamzah Fansuri di Kota Subulussalam, Aceh, tetap menjadi magnet bagi peziarah meski di tengah suasana puasa Ramadan. Lokasi yang terletak di bantaran sungai Lae Soraya, Desa Oboh, Kecamatan Rundeng ini, terpantau ramai dikunjungi warga dari berbagai daerah.

Para pengunjung datang tidak hanya untuk menikmati suasana alam tepi sungai yang sejuk dan asri, namun juga untuk melakukan ritual ziarah. Sosok Syekh Hamzah Fansuri sendiri dikenal luas sebagai ulama besar sekaligus sastrawan sufi yang memiliki pengaruh kuat di Nusantara.

Juru pelihara Makam Syekh Hamzah Fansuri, Khalid Ujung, membenarkan bahwa antusiasme masyarakat tetap tinggi selama bulan suci. Menurutnya, pengunjung yang datang tidak terbatas dari lokal Subulussalam saja, melainkan juga dari luar kabupaten hingga mancanegara.

"Seperti wisatawan dari Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, bahkan ada peziarah yang jauh-jauh datang dari Mesir, Kairo," ujar Khalid saat memberikan keterangan di lokasi makam, Kamis 19 Februari 2026.

Khalid kemudian mengisahkan sejarah awal kedatangan Syekh Hamzah Fansuri hingga akhirnya memutuskan menetap di Desa Oboh. Sang ulama merupakan tokoh pertama yang membawa ajaran tarekat Syattariyah ke wilayah Aceh pada masa silam.

Dalam perjalanannya, beliau memboyong anak serta mertua laki-laki dan perempuannya berangkat dari Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Tujuan utama perjalanan tersebut adalah misi dakwah sekaligus mencari kedamaian spiritual di tanah baru.

Pemilihan Desa Oboh sebagai tempat tinggal permanen bukan tanpa alasan. Syekh Hamzah Fansuri memiliki tekad kuat untuk mencari tanah yang masih kental dengan nilai-nilai kejujuran sebagai tempat bermukim bagi keluarganya.

"Kala itu, Tuan Syekh Hamzah Fansuri mencoba bercocok tanam padi dengan bibit sebanyak satu kaleng. Setelah musim panen tiba, hasil yang ia dapat bersama keluarga juga tetap satu kaleng," tutur Khalid menceritakan filosofi tanah tersebut.

Berdasarkan pengamatan di lokasi, kompleks wisata religi ini tidak hanya menyajikan makam utama sang Syekh. Terdapat deretan makam kuno lainnya yang menjadi bagian dari sejarah perkembangan Islam di pesisir Aceh tersebut.

Di area yang sama, peziarah juga dapat menjumpai makam mertua dari Syekh Hamzah Fansuri serta makam para sahabat dan murid setianya. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan tersebut dulunya merupakan pusat peradaban dan pendidikan agama.

Keberadaan makam-makam masyarakat setempat dari era yang sama semakin mempertegas nilai historis Desa Oboh. Bagi para pengunjung, berziarah di bulan Ramadan memberikan kekhusyukan tersendiri sembari menelusuri jejak penyebaran Islam di ujung barat Sumatera.

Rekomendasi Berita