Mengapa Membaca Buku Fisik Lebih Baik dari E-book?
- 09 Mar 2026 12:27 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Di era digital, buku elektronik (e-book) menawarkan kemudahan akses dan penyimpanan ribuan judul dalam satu perangkat ringan. Namun, banyak pembaca setia tetap memilih buku fisik yang terbuat dari kertas dan tinta. Ketertarikan pada buku fisik ini ternyata bukan hanya masalah nostalgia, melainkan berkaitan erat dengan cara otak kita menyerap informasi secara mendalam.
Prof. Kartika, Ahli Literasi Digital, menjelaskan bahwa membaca buku fisik melibatkan navigasi spasial yang membantu retensi memori. Saat membaca buku kertas, otak kita memetakan informasi berdasarkan letak paragraf di halaman sebelah kiri atau kanan, serta ketebalan halaman yang telah dibaca. "Otak manusia membutuhkan penanda fisik untuk membangun struktur ingatan yang kuat," ungkap Prof. Kartika.
Sebaliknya, pada perangkat digital yang terus di-scroll, penanda spasial tersebut hilang. Teks terasa melayang dan tidak memiliki "lokasi" yang tetap, sehingga otak lebih sulit untuk mengingat kembali detail informasi yang baru saja dibaca. Fenomena ini sering membuat pembaca e-book hanya melakukan pemindaian (skimming) daripada pemahaman mendalam.
Selain faktor kognitif, aspek kesehatan mata juga menjadi pertimbangan penting. Layar digital memancarkan cahaya biru (blue light) yang dapat menekan produksi melatonin dan menyebabkan mata cepat lelah atau digital eye strain. Membaca buku fisik sebelum tidur terbukti membantu kualitas tidur menjadi lebih baik dibandingkan membaca melalui ponsel atau tablet.
Prof. Kartika menekankan bahwa untuk materi bacaan yang berat dan membutuhkan pemikiran kritis, buku fisik tetap tak tergantikan. "Tekstur kertas, aroma buku, dan tindakan membalik halaman menciptakan pengalaman multisensori yang membuat proses belajar menjadi lebih menyenangkan dan tahan lama di ingatan. E-book bagus untuk hiburan cepat, tapi buku fisik adalah pemenangnya untuk pengetahuan," pungkasnya.