Pendidikan Anak Era AI Harus Berorientasi Kemanusiaan

  • 21 Des 2025 09:39 WIB
  •  Ambon

KBRN, Ambon : Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) menuntut perubahan mendasar dalam pola pendidikan anak sejak usia dini. Anak tidak lagi dididik untuk menyaingi AI, melainkan dipersiapkan menjadi manusia utuh yang mampu memimpin, menggunakan, dan mengendalikan teknologi tersebut secara bertanggung jawab.

Pengamat Ekonomi Kreatif, Ekonomi dan Pariwisata, Harry Waluyo, menegaskan bahwa pendidikan masa lalu yang menekankan hafalan berlebihan, kepatuhan mekanis, serta pencarian satu jawaban benar berisiko membuat anak mudah tergantikan oleh AI.

“AI jauh lebih cepat dalam menghafal dan menghitung. Jika anak hanya dilatih seperti robot kecil, maka AI akan menggantikannya. Pendidikan harus beralih dari mengisi otak menjadi membentuk manusia,” ujar Waluyo.

Menurutnya, pendidikan anak di era AI harus berfokus pada perbedaan hakiki antara manusia dan mesin. Nilai moral, empati, rasa ingin tahu, makna hidup, serta tanggung jawab sosial menjadi aspek yang tidak bisa digantikan oleh teknologi.

Waluyo menjelaskan, pada usia 4 hingga 7 tahun, pendidikan seharusnya menekankan fondasi kemanusiaan melalui cerita moral, bermain bersama, dan interaksi sosial, bukan latihan akademik kaku atau penggunaan gawai berlebihan. Memasuki usia 8 hingga 12 tahun, anak perlu dilatih berpikir kritis dan berdiskusi tentang nilai serta etika secara sederhana.

Sementara itu, pada usia remaja 13 hingga 18 tahun, anak perlu dibekali literasi AI, pemahaman risiko dan bias teknologi, serta kepemimpinan dan tanggung jawab sosial. AI harus dijadikan alat belajar, bukan jalan pintas untuk menghindari proses berpikir.

“AI bisa mengajarkan anak tentang ‘bagaimana’, tetapi manusia harus mengajarkan ‘mengapa dan untuk apa’. Jika anak hanya pintar, AI akan mengalahkannya. Namun jika anak pintar dan bijaksana, AI akan mengikutinya,” kata Waluyo.

Ia juga menekankan peran penting orang tua dan guru sebagai teladan nilai dan pembimbing etika. Anak belajar menjadi manusia dari manusia, bukan dari algoritma.

Rekomendasi Berita