Psikolog: Work Life Balance Tidak Harus Berimbang 50 Persen

  • 10 Mar 2026 06:48 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon – Konsep work life balance sering dipahami sebagai keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi dengan porsi yang sama. Namun secara psikologis, keseimbangan tersebut tidak selalu harus dibagi sama rata.

Psikolog Klinis Khairunnisa Nuraini Rachman dalam obrolan santai di SINIAR RRI menjelaskan, work life balance merupakan kemampuan seseorang menyeimbangkan antara kehidupan pekerjaan dan kehidupan pribadi sehingga tetap menjaga kesehatan mental.

Menurutnya, banyak orang menganggap keseimbangan harus berada pada angka 50 persen untuk pekerjaan dan 50 persen untuk kehidupan pribadi. Padahal kondisi tersebut tidak selalu berlaku bagi setiap individu.

“Work life balance itu tidak harus 50:50. Ketika seseorang bekerja 70 persen dan kehidupan pribadinya 30 persen tetapi ia tetap merasa nyaman, bahagia, dan tidak mengalami tekanan mental, maka itu sudah bisa disebut seimbang,” ujar Kirunisa.

Ia mengatakan, setiap orang memiliki persepsi berbeda terhadap pekerjaan dan kehidupannya. Oleh sebab itu, ukuran keseimbangan juga tidak dapat disamaratakan.

Kirunisa menambahkan, seseorang dapat mengetahui apakah dirinya telah memiliki keseimbangan hidup melalui kondisi emosionalnya. Jika masih merasa nyaman, produktif, dan tidak mengalami kelelahan emosional, maka keseimbangan tersebut masih terjaga.

Namun sebaliknya, jika pekerjaan mulai menimbulkan rasa jenuh, stres, atau kelelahan berlebih, maka hal tersebut menjadi tanda bahwa keseimbangan hidup mulai terganggu.

Menurutnya, kondisi tersebut sering kali muncul ketika seseorang tidak mampu mengatur prioritas pekerjaan maupun membagi waktu dengan baik antara aktivitas kerja dan kehidupan pribadi.

Selain itu, perkembangan teknologi juga turut mempengaruhi keseimbangan hidup para pekerja. Kemudahan komunikasi melalui pesan singkat atau surat elektronik membuat pekerjaan sering kali terbawa hingga di luar jam kerja.

Karena itu, Kirunisa menilai penting bagi setiap pekerja untuk membangun komunikasi yang baik dengan atasan maupun rekan kerja terkait pembagian waktu kerja.

Ia juga menyarankan agar pekerja dapat menetapkan batasan yang jelas antara waktu bekerja dan waktu beristirahat, serta tetap meluangkan waktu untuk melakukan aktivitas yang menyenangkan.

“Ketika seseorang mampu mengatur prioritas, berkomunikasi dengan baik, serta tetap menyediakan waktu untuk dirinya sendiri, maka keseimbangan hidup akan lebih mudah tercapai,” katanya.

Kirunisa mengingatkan, menjaga work life balance bukan hanya berdampak pada kesehatan mental, tetapi juga berpengaruh terhadap produktivitas dan kualitas hubungan sosial seseorang di lingkungan kerja maupun keluarga.

Rekomendasi Berita