Perempuan Aceh Pelopori Pengurangan Sampah Rumah Tangga

  • 24 Feb 2026 08:00 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh – Perempuan dinilai memegang peran kunci dalam mengurangi dampak pencemaran lingkungan melalui budaya pilah sampah dari rumah. Upaya ini dinilai mampu menekan volume sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Selain itu, upaya tersebut juga mengurangi praktik pembakaran sampah, serta meminimalisir pencemaran tanah dan udara.

Owner Rumah Broeh Kreatif KBA Peunyeurat, Raudhah, SP, mengatakan gerakan pilah sampah dibangun dari keprihatinan terhadap kondisi lingkungan. Ia hadir dalam Dialog Perempuan dan Anak di Pro 1 RRI Banda Aceh, Senin 23 Februari 2026.

“Kami melihat sampah plastik minyak goreng, kemasan sabun, dan karung beras banyak dibakar. Padahal membakar sampah itu memperparah pencemaran udara dan membuat suhu lingkungan makin panas,” ujar Raudhah.

Melalui Rumah Broeh Kreatif, ia mengajak sekitar 20 ibu rumah tangga untuk memilah sampah dari sumbernya. Sampah organik diolah menjadi kompos, pupuk cair, dan eco enzyme. Tak hanya itu, sampah anorganik seperti plastik kemasan dianyam menjadi tas, dompet, dan paperbag.

Menurut Raudhah, pendekatan ini tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga mengurangi beban TPA. “Kalau dari rumah sudah dipilah, sampah tidak tercampur dan tidak kotor. Yang organik kembali ke tanah sebagai pupuk, yang anorganik bisa dimanfaatkan lagi. Jadi tidak semuanya berakhir di TPA,” jelasnya.

Raudhah menambahkan, perubahan perilaku mulai terlihat di masyarakat. Limbah dapur seperti kulit bawang dan air cucian beras kini dimanfaatkan sebagai pupuk alami.

“Sekarang kulit bawang saja jadi rebutan karena sudah tahu manfaatnya untuk tanaman. Ini perubahan kecil, tapi dampaknya besar untuk tanah dan lingkungan,” tambah Raudhah.

Gerakan ini sekaligus menjadi bentuk edukasi lingkungan berbasis keluarga. Perempuan dapat berperan sebagai agen perubahan dari dapur rumah tangga.

Rekomendasi Berita