Aceh Tamiang Catat 14 Ribu Kasus ISPA Pascabanjir

  • 23 Feb 2026 16:33 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh – Kondisi kesehatan masyarakat di Kabupaten Aceh Tamiang terus menjadi perhatian serius pascabencana banjir bandang yang melanda akhir November 2025. Data Dinas Kesehatan setempat mencatat lebih dari 14.000 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sejak dua bulan terakhir, yang diduga kuat dipicu oleh debu tebal dari endapan lumpur yang mengering di permukiman dan jalan protokol.

Dalam dialog bersama Banda Aceh Menyapa di RRI Banda Aceh, Senin (23/2/2026), Adelinda Barus, S.T., Penata Kelola Sistem dan Teknologi Informasi BPBD Aceh Tamiang, menegaskan bahwa pemerintah daerah telah mengimplementasikan berbagai langkah untuk merespons kondisi ini.

“Pascabencana, kami melihat peningkatan kasus ISPA yang cukup signifikan,” ujar Adelinda. “Pemerintah daerah bersama instansi kesehatan dan relawan telah menyiapkan fasilitas layanan medis, sosialisasi penggunaan masker, serta edukasi pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat bagi warga.”

Adelinda menjelaskan, debit lumpur yang melapisi permukaan tanah kini menjadi sumber debu halus ketika kering, yang mudah terhirup terutama oleh anak-anak dan kelompok rentan. “Debu ini seperti ‘ancaman tak kasat mata’ setelah bencana. Tanpa mitigasi cepat, kasus pernapasan akan terus bertambah,” katanya.

Adelinda Barus, S.T., Penata Kelola Sistem dan Teknologi Informasi BPBD Aceh Tamiang dan Mulianto, SKM, Plt. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Aceh Tamiang , Dalam dialog bersama Banda Aceh Menyapa di RRI Banda Aceh, Senin (23/2/

Sementara itu, Mulianto, SKM, Plt. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Aceh Tamiang, menyatakan bahwa respons kesehatan publik di daerah telah diintensifkan melalui berbagai strategi.

“Tim kesehatan kami bergerak cepat di titik-titik terdampak, melakukan pemeriksaan kesehatan, distribusi masker, dan pemberian obat-obatan dasar. Kami juga mengedukasi warga tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan serta menghindari paparan debu,” kata Mulianto.

Mulianto menambahkan bahwa pihaknya bekerja sama dengan berbagai lembaga, termasuk kementerian dan organisasi relawan, guna mengantisipasi lonjakan penyakit lain yang umum terjadi pascabencana — seperti diare atau infeksi kulit — terutama di lokasi pengungsian. Langkah-langkah ini dianggap penting untuk mencegah krisis kesehatan lanjutan di tengah upaya rehabilitasi dan pemulihan masyarakat.

Upaya penanggulangan juga mencakup kolaborasi lintas sektor, seperti penanganan sanitasi lingkungan, pembagian masker, serta penyediaan layanan medis bergerak untuk memastikan akses kesehatan lebih merata di desa-desa terdampak. Masyarakat diminta tetap waspada dan aktif berpartisipasi dalam kegiatan pencegahan.

Fenomena peningkatan kasus ISPA ini bukan hanya menimbulkan tekanan pada fasilitas kesehatan setempat, tetapi juga menjadi pelajaran penting bagi strategi penanggulangan bencana kesehatan di Indonesia, terutama di wilayah rawan bencana seperti Aceh Tamiang.

Rekomendasi Berita