Dokter Ingatkan Orang Tua Periksa Telinga Anak secara Berkala

  • 02 Mar 2026 20:48 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, BANDA ACEH- Upaya merawat telinga sejak dini menjadi langkah penting untuk mencegah berbagai gangguan kesehatan yang dapat berdampak pada kualitas hidup, terutama pada anak-anak usia sekolah. Hal tersebut disampaikan oleh dr. Dina Alia, Sp.THT-KL, Ph.D, dokter spesialis THT-KL di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin, saat dialog interaktif di Pro 1 Radio Republik Indonesia Banda Aceh, Sabtu, 28 Februari 2026.

Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan bahwa berbicara tentang perawatan telinga bukan berarti seseorang sedang mengalami gangguan, melainkan sebagai bentuk pencegahan agar telinga tetap dalam kondisi optimal. “Bicara mengenai rawat telinga artinya telinga saat ini dalam kondisi baik, mau kita rawat supaya tidak terjadi masalah atau gangguan. Nah, sebelumnya kita bahas dulu kalau telinga itu selain fungsinya untuk pendengaran juga sebenarnya ada organ keseimbangan di dalamnya,” ujarnya.

Menurut dr. Dina, fungsi telinga tidak hanya sebatas sebagai indra pendengaran, tetapi juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan tubuh. Oleh karena itu, menjaga kesehatan telinga menjadi bagian krusial dalam menunjang aktivitas sehari-hari. Ia menjelaskan bahwa pada anak-anak, kemampuan mendengar merupakan fondasi utama dalam proses tumbuh kembang, khususnya dalam kemampuan berbicara dan memahami bahasa.

“Karena telinga itu fungsinya untuk mendengar, maka pada seorang anak mendengar itu merupakan pondasi untuk berbicara. Terus yang kedua kalau anak usia sekolah, maka tentu pondasi dia untuk bisa mendengar informasi berupa pelajaran-pelajaran,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia menyoroti fenomena yang kerap terjadi di lingkungan sekolah, di mana gangguan pendengaran pada anak sering kali tidak terdeteksi sejak dini. Banyak anak yang sebenarnya mengalami penurunan kemampuan mendengar, namun tidak menyadarinya sebagai sebuah masalah. Kondisi ini diperparah apabila anak memiliki kepribadian pemalu dan enggan menyampaikan keluhan.

“Kalau ada masalah pendengaran, misalnya kok kurang dengar ya, tapi si anak nggak tahu kalau itu adalah sebuah masalah. Jadi ketika dia mendengar guru menjelaskan pelajaran, dia kira memang segitu volume suara gurunya. Apalagi kalau tipenya pemalu dan tidak langsung memberi tahu kalau ada masalah pada dirinya, maka dia akan diam saja. Sehingga masalah pendengaran ini nggak muncul dan nggak diketahui,” tegas dr. Dina.

Dampaknya, lanjut dia, gangguan pendengaran yang tidak segera ditangani dapat berpengaruh pada prestasi akademik anak. Tidak jarang orang tua baru menyadari adanya masalah ketika nilai anak terus menurun dari waktu ke waktu.

“Biasanya pasien datang dengan keluhan, kok makin hari makin naik kelas bukannya makin bagus prestasinya malah makin turun. Nah, biasanya seperti itu pada usia anak sekolah. Hal ini sangat disayangkan karena masalah telinga ini sebenarnya bisa kita deteksi lebih cepat sebelum terjadi masalah yang lebih serius,” tutupnya.

Dr. Dina mengimbau para orang tua untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku dan prestasi anak, serta tidak ragu memeriksakan kesehatan telinga secara berkala sebagai langkah pencegahan. Pemeriksaan dini dinilai mampu mencegah dampak jangka panjang, sekaligus memastikan proses belajar dan tumbuh kembang anak berlangsung optimal tanpa hambatan pendengaran.

Rekomendasi Berita