Waspada Batuk Pilek Picu Infeksi Telinga
- 02 Mar 2026 21:13 WIB
- Banda Aceh
RRI.CO.ID, BANDA ACEH - Penyakit demam, batuk, dan pilek kerap dianggap sebagai gangguan kesehatan ringan yang biasa dialami sehari-hari, terutama pada anak-anak. Namun di balik gejala yang tampak sederhana tersebut, tersimpan potensi komplikasi serius apabila tidak ditangani secara tepat dan tuntas. Hal itu disampaikan oleh dr. Dina Alia, Sp.THT-KL, Ph.D, dokter spesialis THT-KL di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin, saat dialog interaktif di Pro 1 RRI Banda Aceh, Sabtu, 28 Februari 2026.
Dalam pemaparannya, dr. Dina menjelaskan bahwa infeksi saluran pernapasan atas seperti batuk dan pilek yang tidak tertangani dengan baik dapat menjadi pintu masuk penyebaran kuman ke telinga tengah. “Demam itu kan memang penyakit sehari-hari, sering berulang. Nah, jika batuk pilek yang tidak tertangani dengan baik, tidak tertangani dengan tuntas, maka bisa menyumbat pilek di hidung dan di tenggorok. Kumannya itu bisa bersarang ke telinga,” ujarnya.
Ia memaparkan bahwa secara anatomi, telinga terbagi menjadi tiga bagian, yakni telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam. Di antara hidung bagian belakang dan telinga tengah terdapat saluran penghubung yang disebut Tuba Eustachius. Saluran inilah yang berperan sebagai “jembatan” yang memungkinkan terjadinya perpindahan cairan maupun kuman dari hidung ke telinga tengah. “Antara hidung belakang sama telinga tengah ada jembatan namanya Tuba Eustachius.
Jadi misalnya di hidung lagi banyak sekali ingus, cairannya banyak dan kental, itu sudah ada kumannya, sudah ada bakterinya. Nah, itu bisa saja bermigrasi atau berjalan ke telinga bagian tengah,” jelasnya. Kondisi tersebut lebih rentan terjadi pada anak-anak karena ukuran dan posisi Tuba Eustachius yang relatif lebih pendek dan lebih datar dibandingkan orang dewasa, sehingga kuman lebih mudah berpindah.
Lebih lanjut, dr. Dina mengingatkan bahwa ketika cairan terus diproduksi akibat infeksi yang tidak sembuh sempurna, maka cairan tersebut akan menumpuk di ruang telinga tengah. Penumpukan cairan yang mengandung kuman ini lambat laun meningkatkan tekanan di dalam telinga.
“Apabila cairan tersebut terus diproduksi, terus banyak dan mengumpul, lama-lama ruang telinga tengah jadi penuh. Salah satu pintu yang paling lemah dan paling bisa ditembusi adalah gendang telinga, karena gendang telinga itu memang tipis. Nah, itu bisa menjebol gendang telinga sampai pasien mengeluh, ‘kok telinga saya basah?’, ‘kok telinganya keluar cairan?’,” ungkapnya.
Menurutnya, pada pasien anak, kondisi ini kerap membuat orang tua panik karena tiba-tiba mendapati cairan keluar dari telinga buah hati mereka. Cairan tersebut bahkan sering disalahartikan sebagai ingus yang keluar dari telinga. “Kalau pasien anak, paling sering orang tuanya datang dan bilang, ‘Dok, ini basah nih telinganya, keluar cairan, kayak keluar ingus dari telinga’. Padahal itu sebenarnya tanda bahwa gendang telinganya sudah berlubang akibat tekanan dan infeksi di dalamnya,” tambah dr. Dina.
Ia menegaskan, ketika membran timpani atau gendang telinga sudah mengalami perforasi atau berlubang, maka proses penyembuhannya membutuhkan waktu dan penanganan medis yang tepat. Jika diabaikan, lubang tersebut bisa semakin membesar dan memperparah kondisi infeksi. “Kalau sudah gendang telinganya berlubang, untuk proses penyembuhannya tentu butuh waktu. Kalau tidak tertangani dengan baik, lubangnya makin hari makin besar. Cairan yang menumpuk tadi sudah banyak kumannya di dalamnya. Nah, makin lama bahkan bisa menyebabkan munculnya jaringan granulasi, atau seperti daging tumbuh di dalamnya,” tegasnya.
Tak hanya itu, infeksi kronis yang berlangsung lama juga berisiko menimbulkan kolesteatom, yakni pertumbuhan jaringan abnormal menyerupai kulit di dalam telinga tengah yang bersifat merusak. Jaringan ini dapat mengikis bahkan menghancurkan tulang-tulang kecil pendengaran yang berfungsi menghantarkan suara dari luar ke dalam telinga.
“Kalau makin lama lagi tidak teratasi dengan sangat baik, bisa muncul selaput-selaput seperti kulit yang dalam bahasa medisnya kolesteatom. Itu semua akan memakan tulang-tulang pendengaran. Jadi tulang pendengaran bisa dimakan oleh infeksi ini, tentu proses suara masuk dari lingkungan luar melalui liang telinga jadi terganggu,” paparnya.
Dr. Dina mengimbau masyarakat agar tidak menyepelekan batuk dan pilek yang berlangsung lama, terutama pada anak-anak. Penanganan yang cepat dan tuntas, menurutnya, merupakan langkah penting untuk mencegah komplikasi serius yang dapat berujung pada gangguan pendengaran permanen. Pemeriksaan ke dokter spesialis THT-KL dianjurkan apabila gejala tidak membaik dalam beberapa hari atau disertai keluhan nyeri telinga dan keluarnya cairan, sehingga infeksi dapat segera diatasi sebelum menimbulkan kerusakan lebih lanjut.