Barongsai, Lebih dari Sekadar Tarian Perayaan Imlek
- 14 Feb 2026 20:44 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandar Lampung : Barongsai merupakan kesenian yang telah dikenal sejak ratusan tahun silam dan berkembang. Menjadi salah satu simbol budaya Tionghoa yang masih lestari hingga kini, termasuk di Indonesia. Di balik atraksi barongsai yang membuat kagum, ternyata ada nilai filosofis dan kepercayaan yang tersimpan di setiap gerak tarian. Buku "Agama dan kearifan Lokal dalam Tantangan Global" menjelaskan barongsai bermula pada masa Dinasti Chin atau sekitar abad ke-3 sebelum Masehi, dan semakin berkembang pada era Dinasti Selatan-Utara (Nan-Bei) sekitar abad ke-5 hingga ke-6 Masehi.
Pada awalnya, barongsai memiliki fungsi sakral. Pertunjukan ini erat kaitannya dengan ritual keagamaan di kelenteng dan dipercaya sebagai penghubung antara manusia dan dunia spiritual. Barongsai juga diyakini mampu menolak bala dan menjaga keselamatan. Karena itu, sebelum pertunjukan digelar, para pemain biasanya menjalani rangkaian ritual tertentu demi keselamatan dan kelancaran atraksi. Tradisi ini kemudian masuk ke Indonesia seiring migrasi masyarakat Tionghoa pada abad ke-17. Istilah barongsai sendiri mencerminkan akulturasi budaya, berasal dari kata barong dalam bahasa Jawa, dan sai dari dialek Hokkian yang berarti singa.
Seiring waktu, barongsai berkembang dari kesenian sakral di kelenteng menjadi pertunjukan publik yang dapat dinikmati masyarakat luas. Hingga kini, barongsai menjadi pertunjukan yang tidak pernah absen dalam perayaan Imlek. Jika dilihat, atraksi barongsai lebih banyak melibatkan gerakan kaki yang berpindah dengan cepat. Selain itu, diperlukan kekuatan dan keseimbangan dari para pemain, mengingat 'Sarung Singa' ini biasanya dikenakan dua orang atau lebih di dalamnya.
Barongsai memadukan tiga aktivitas menjadi satu tampilan yang apik, yakni tarian, bela diri, dan akrobatik. Secara garis besar, teknik dalam tarian barongsai berangkat dari pola gerak yang sama meski dapat dikembangkan sesuai kebutuhan pertunjukan. Barongsai sendiri merupakan representasi dari singa, hewan yang dianggap memiliki kekuatan mistis untuk memberikan perlindungan. Gerakannya yang melompat tinggi melambangkan kemajuan karier dan peningkatan taraf hidup yang pesat. Jika kamu melihat Barongsai melakukan atraksi mengambil sayur selada (Cai Qing), itu adalah momen krusial. Selada dalam bahasa Mandarin terdengar mirip dengan kata “menghasilkan kekayaan”. Jadi, atraksi tersebut adalah visualisasi nyata dari menjemput rezeki.
Memahami makna di balik lampion dan Barongsai akan mengubah cara kamu memandang perayaan tahunan ini. Bukan lagi soal hiasan atau tontonan, melainkan soal bagaimana kamu menyelaraskan diri dengan energi kemakmuran yang ada. Pastikan kamu merayakan Imlek dengan kesadaran penuh akan filosofi ini agar dampak positifnya terasa nyata dalam kehidupan sehari-hari.