Udang Lampung Diolah Jadi Produk Dried Shrimp
- 19 Des 2025 14:31 WIB
- Bandar Lampung
KBRN, Bandarlampung: Upaya mendorong pemanfaatan produk dalam negeri dilakukan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Lampung.
Melalui kolaborasi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Lampung, HIPMI menghadirkan inovasi produk olahan udang lokal berupa Dried Shrimp atau udang kering, yang digadang-gadang berpotensi menembus pasar ekspor.
Ketua Bidang 6 HIPMI Lampung, Brian Anentinus, menjelaskan inovasi ini berawal dari audiensi dan koordinasi yang dilakukan HIPMI bersama DKP Lampung. Dari pertemuan tersebut, muncul dorongan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan daerah, khususnya sektor perikanan.
“Kami dari HIPMI melakukan koordinasi audiensi untuk meningkatkan kolaborasi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung. Dari hasil pertemuan itu, alhamdulillah ada beberapa arahan dan kolaborasi yang bisa kami lakukan, salah satunya dengan membuat produk udang kering ini,” kata Brian, saat ditemui dalam Business Matching pemasaran udang dalam negeri, di Bandarlampung, Jumat (19/12/2025).

Jajaran Hipmi Lampung saat memperkenalkan produk udang kering di Business Matching. (Foto:RRI/Galih Prihantoro)
Brian memaparkan, produk yang ditampilkan merupakan udang kering berbahan dasar udang segar ukuran 100 yang dibeli langsung dari petambak lokal di Kabupaten Pesawaran, Lampung. Proses produksinya dilakukan secara bertahap dan higienis.
“Udang kami buka kepalanya, dikupas kulitnya, disisakan buntutnya, lalu dibuang saluran pembuangannya. Setelah itu dicuci tiga kali, direbus, dan dioven menggunakan alat dehydrator,” jelasnya.
Meski masih dalam tahap percobaan dan menggunakan dehydrator skala kecil, Brian menyatakan secara industri sudah tersedia oven berkapasitas besar. Proses uji coba dilakukan berulang kali, termasuk penyesuaian komposisi bahan hingga akhirnya ditemukan formula yang tepat.
“Sudah beberapa kali uji dengan perubahan ingredients, dan akhirnya kami punya formulanya,” ujarnya.
Dia menjelaskan untuk saat ini, produk Dried Shrimp HIPMI Lampung baru tersedia dalam satu varian rasa, yakni rasa original. Komposisi bumbunya pun sederhana.
“Hanya campuran gula dan garam. Jadi sementara ini satu macam dulu,” kata Brian.
Produk udang kering atau Dried Shimp hasil inovasi Hipmi Lampung. (Foto:RRI/Galih Prihantoro).Meski sederhana, produk ini mendapatkan respons positif dari berbagai pihak. Bahkan, menurut Brian, sejumlah perwakilan instansi dan komunitas menilai produk tersebut sudah memenuhi standar internasional.
“Tadi ada masukan dari teman-teman, senior-senior, bahkan dari dinas kesehatan, dinas pertanian, dan Ketua Shrimp Club Indonesia Lampung, yang menyatakan produk ini sudah berstandar internasional dan berpotensi ekspor,” ujarnya.
Brian menyebutkan bahwa peluncuran produk ini masih bersifat soft launching, sebagai tahap perkenalan kepada publik dan pemangku kepentingan.
“Belum kami pasarkan secara luas. Hari ini bisa dibilang soft launching, memperkenalkan bahwa ini produk yang kami coba buat,” kata dia
Ke depan, jika peluang bisnis dinilai menjanjikan, HIPMI Lampung siap membawa produk ini ke tahap industrialisasi. Hal ini sejalan dengan harapan DKP Lampung dan Pemerintah Provinsi Lampung untuk meningkatkan nilai tambah komoditas daerah.
“Bagaimana setiap komoditas unggulan Lampung punya nilai tambah. Itu yang sedang kami lakukan,” kata Brian.
Selain sebagai bahan masakan, Brian menilai Dried Shrimp ini juga bisa dikonsumsi langsung sebagai camilan.
“Di luar negeri biasanya dipakai untuk sambal atau tumisan. Tapi saya coba sendiri dicemilin saja, ditemani teh atau kopi. Bisa habis 7–8 ekor, dan rasanya bikin kenyang, berenergi, badan terasa lebih enteng,” ucapnya.
Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa udang kering tidak hanya praktis, tetapi juga bergizi dan cocok untuk berbagai segmen konsumen.
Saat ini, harga jual Dried Shrimp HIPMI Lampung masih berada di angka Rp100 ribu per 150 gram. Harga tersebut dipengaruhi oleh biaya produksi yang masih relatif tinggi karena bahan baku dibeli secara eceran.
“Kalau nanti bisa beli langsung ke petambak dengan harga lebih murah, saya rasa harga bisa turun sampai sekitar Rp450 ribu per kilogramnya,” jelas Brian.
Dengan efisiensi biaya produksi, harga jual diproyeksikan bisa menjadi lebih kompetitif, bahkan membuka peluang keuntungan lebih besar jika menembus pasar ekspor.
Lebih dari sekadar bisnis, inovasi ini juga menjadi bentuk dukungan HIPMI Lampung terhadap program pemerintah pusat dan daerah, khususnya dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap produk udang nasional.
"Kemarin ada isu bahwa udang terkontaminasi radioaktif, sehingga menghambat penyerapan hasil produksi udang secara nasional. Kami harapkan dengan adanya acara ini masyarakat kembali percaya bahwa udang ini mudah dikonsumsi, mudah diolah dan sangat bergizi dan juga baik serta tidak berbahaya untuk kesehatan," kata dia.
Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, HIPMI Lampung optimis produk Dried Shrimp lokal ini dapat berkembang menjadi produk unggulan daerah.
"Saya rasa tentu kami akan mengembangkan, karena hari ini masukan-masukan positif itu menjadi semangat saya dan semangat tim. Tentu kami akan mengembangkan membicarakan ini lebih dalam lagi untuk membuat ini dalam skala bisnis dan industrial ya," katanya, mengakhiri.