Tradisi Membuat Ketupat Menjelang Lebaran Tetap Lestari
- 12 Mar 2026 12:46 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID,Bandar Lampung-Menjelang perayaan Idul Fitri, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia masih mempertahankan tradisi membuat ketupat sebagai bagian dari hidangan khas saat hari raya. Ketupat yang terbuat dari beras dan dibungkus dengan anyaman daun kelapa muda atau janur ini menjadi simbol kebersamaan, kesederhanaan, serta saling memaafkan setelah menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadan.
Biasanya, tradisi membuat ketupat dilakukan sehari sebelum hari raya. Para ibu rumah tangga bersama anggota keluarga lainnya berkumpul untuk menganyam janur menjadi bentuk ketupat, kemudian mengisinya dengan beras sebelum direbus selama beberapa jam hingga matang. Kegiatan ini tidak hanya menjadi persiapan hidangan lebaran, tetapi juga menjadi momen kebersamaan yang mempererat hubungan keluarga.
Ketupat sendiri memiliki makna filosofis yang dalam dalam budaya masyarakat Jawa yang dipopulerkan oleh Sunan Kalijaga. Kata “ketupat” dipercaya berasal dari istilah “ngaku lepat” yang berarti mengakui kesalahan. Anyaman janur yang rumit melambangkan berbagai kesalahan manusia, sementara warna putih dari nasi di dalam ketupat menggambarkan hati yang bersih setelah saling memaafkan.
Saat hari raya tiba, ketupat biasanya disajikan bersama berbagai hidangan khas seperti Opor Ayam, Rendang, atau sambal goreng hati. Kombinasi hidangan tersebut menjadi menu favorit yang selalu dinantikan saat berkumpul bersama keluarga dan kerabat.
Meski zaman terus berkembang, tradisi membuat ketupat menjelang Lebaran tetap dijaga oleh masyarakat sebagai bagian dari warisan budaya. Selain menjaga nilai-nilai kebersamaan, tradisi ini juga menjadi cara untuk melestarikan kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.