Naskah Bujangga Manik, Geografi dan Topografi Pulau Jawa
- 28 Feb 2026 16:47 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung: Di dalam kebudayaan Sunda, banyak terdapat naskah Sunda kuno yang merupakan manuskrip bersejarah dari abad ke-14 hingga ke-18 yang ditulis di atas daun lontar atau gebang menggunakan aksara Sunda Kuno, sering kali memuat ajaran moral, etika, dan kebudayaan. Salah satu naskah paling penting adalah Sanghyang Siksa Kandang Karesian (1518 M), yang diakui UNESCO sebagai Memory of the World dan mencakup panduan hidup, ajaran agama, serta aturan sosial.
Selain naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian, ada juga naskah kuno Sunda lainnya yang cukup menarik, yaitu Naskah Bujangga Manik yang didalamnya menceritakan Kisah perjalanan geografis seorang pangeran di pulau Jawa dan Bali.
Menurut laman disipusda.purwakartakab.go.id tentang “Sejarah Ekspedisi “Bhujangga Manik” di Purwakarta”, Naskah ini ditulis pada daun nipah, dalam puisi naratif berupa lirik yang terdiri dari delapan suku kata dan saat ini disimpan di Perpustakaan Bodleian di Universitas Oxford sejak tahun 1627 (MS Jav. b. 3 (R), cf. Noorduyn 1968 : 469, Ricklefs / Voorhoeve 1977 : 181). Naskah Bhujangga Manik seluruhnya terdiri dari 29 lembar daun nipah, yang masing-masing berisi sekitar 56 baris kalimat yang terdiri dari 8 suku kata.
Tokoh dalam naskah ini adalah “Prabu Jaya Pakuan” alias “Bhujangga Manik” alias “Rakeyan Ameng Layaran”, seorang resi Hindu dari Kerajaan Sunda yang lebih suka menjalani hidup sebagai seorang resi. Walaupun sebenarnya ia seorang kesatria dari keraton Pakuan Pajajaran, ibu kota Kerajaan Sunda, yang bertempat di wilayah yang sekarang menjadi Kota Bogor.
Sebagai seorang resi, dia melakukan dua kali perjalanan dari Pakuan Pajajaran ke Timur Jawa dan pada perjalanan kedua Bhujangga Manik malah sempat singgah di Bali untuk beberapa lama. Pada akhirnya Bhujangga Manik bertapa di sekitar Gunung Patuha sampai akhir hayatnya.
Dari ceritera dalam naskah tersebut, bahwa naskah Bhujangga Manik berasal dari jaman sebelum Islam masuk ke Tatar Sunda dan Naskah tersebut tidak mengandung satu pun kata-kata yang berasal dari bahasa Arab. Penyebutan Majapahit, Malaka dan Demak membawa pada perkiraan bahwa naskah ini ditulis akhir tahun 1400-an atau awal tahun 1500-an.
Naskah ini sangat berharga karena menggambarkan geografi dan topografi Pulau Jawa pada saat naskah dibuat. Lebih dari 450 nama tempat, gunung dan sungai disebutkan di dalamnya dan sebagian besar dari nama-nama tempat tersebut masih digunakan atau dikenali sampai sekarang.