Program Sirkular Kolaborasi Kang Pisman Buruan SAE , Lingkungan, Pangan

  • 22 Feb 2026 11:17 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Satu tahun perjalanan Program Sirkular Bandung Utama menandai babak baru transformasi lingkungan dan penguatan ketahanan pangan di Kota Bandung. Melalui integrasi tiga program unggulan, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menghadirkan solusi menyeluruh dari hulu hingga hilir, mulai dari pengelolaan sampah, urban farming, hingga pemenuhan gizi keluarga.

‎Program ini menggabungkan gerakan Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan), inovasi pertanian perkotaan Buruan SAE (Sehat, Alami, Ekonomis), serta Dashat (Dapur Sehat Atasi Stunting) dalam satu ekosistem terpadu bernama Karasa.

‎Konsep yang diusung sederhana namun berdampak luas. Sampah organik diolah menjadi kompos, kompos dimanfaatkan untuk menanam bahan pangan di buruan atau pekarangan warga, hasil panen digunakan untuk memenuhi kebutuhan dapur sehat, dan sisa dapur kembali masuk dalam sistem pengolahan sampah. Siklus ini menciptakan ekosistem sirkular yang berkelanjutan di tingkat kewilayahan.

‎Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menjelaskan bahwa setelah satu tahun berjalan, tantangan utama yang dihadapi adalah pemerataan keberadaan Dashat di setiap wilayah.

‎“Kalau Buruan SAE dan pengolahan sampah rata-rata sudah ada. Yang kita pastikan sekarang adalah Dapur Sehat Atasi Stunting di tingkat kelurahan,” ujar Farhan, Minggu 22 Februari 2026.

‎Pemkot Bandung, lanjutnya, menargetkan minimal satu Dapur Sehat Atasi Stunting tersedia di setiap kelurahan. Langkah ini dinilai penting untuk mempercepat penurunan angka stunting sekaligus memastikan akses pangan bergizi bagi keluarga rentan.

‎Perhatian khusus juga diberikan kepada kelurahan yang memiliki keterbatasan lahan, terutama dalam pengelolaan sampah dan pengembangan buruan. Untuk itu, Pemkot menyiapkan skema khusus agar seluruh wilayah, termasuk kawasan padat penduduk, tetap dapat terlibat aktif dalam sistem sirkular ini.

‎Program Sirkular Bandung Utama bukan sekadar kebijakan administratif, melainkan gerakan yang dirasakan langsung manfaatnya oleh warga.

‎Warga Kelurahan Mekarjaya, Opi S. Inayah, mengungkapkan Buruan SAE kini menjadi salah satu sumber pangan keluarga. Menurutnya, warga tidak hanya menanam dan memanen, tetapi juga merasakan dampak ekonomi dan kesehatan dari hasil kebun sendiri.

‎“Kami bisa menanam, memanen, dan hasilnya dimanfaatkan untuk dapur sehat. Ini gerakan yang terintegrasi dan sangat bagus,” ujarnya.

‎Hal senada disampaikan Lismawati. Ia menilai kehadiran Dashat sangat membantu pemenuhan gizi anak-anak di lingkungannya. Menu sehat yang diolah dari hasil buruan dinilai efektif menunjang upaya penurunan stunting.

‎“Dari hasil buruan lahir menu sehat untuk warga. Ini sangat menunjang penurunan stunting,” katanya.

‎Sementara itu, Ujang Mamat menilai gerakan Kang Pisman membawa perubahan nyata terhadap kebersihan lingkungan. Warga kini terbiasa memilah sampah organik dan non-organik sebelum dikelola lebih lanjut.

‎“Sampah organik dan non-organik sudah dikelola. Lingkungan jadi lebih nyaman,” tandasnya.

Rekomendasi Berita