Kemudahan Pertanian, ITB-HIMAREKTA “Agrapana” Hadirkan Inovasi Perontok Padi

  • 04 Mar 2026 21:46 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Himpunan Mahasiswa Mesin (HMM) ITB berkolaborasi dengan Himpunan Mahasiswa Rekayasa Pertanian (HIMAREKTA) “Agrapana” ITB dalam program pengabdian masyarakat bertajuk “Wanakarya” di Desa Wanasari, Kecamatan Naringgul, Kabupaten Cianjur Selatan, Jawa Barat. Kegiatan ini merupakan implementasi lanjutan dari program Desa Mitra HMM ITB yang telah berjalan sejak 2023.

Ketua Divisi Community Development HMM ITB sekaligus Ketua Pelaksana Wanakarya, Nabiel Falih Utama (Teknik Mesin 2022), Rabu 4 Maret 2026, menjelaskan inovasi mekanik, kolaborasi dengan HIMAREKTA “Agrapana” memperluas cakupan solusi ke aspek pertanian berkelanjutan. Berdasarkan temuan di lapangan, limbah gabah pascapanen umumnya dibakar, sementara serangan hama juga menjadi persoalan rutin. Melalui Badan Semi Otonom (BSO) Agrapana Mengabdi, HIMAREKTA “Agrapana” menginisiasi pelatihan pembuatan biochar dari limbah pertanian dan peracikan biopestisida ramah lingkungan.

Biochar yang dihasilkan dirancang untuk dimanfaatkan kembali sebagai pembenah tanah guna meningkatkan kualitas dan retensi nutrisi lahan pertanian. Sementara itu, biopestisida diperkenalkan sebagai alternatif pengendalian hama yang lebih berkelanjutan dibanding pestisida kimia sintetis.

Sekitar 30-40 warga mengikuti sesi edukasi dan praktik langsung terkait kedua inovasi tersebut. Dengan pendekatan ini, limbah pertanian tidak lagi menjadi residu yang dibakar, melainkan diolah menjadi produk bernilai tambah.

Program Wanakarya juga mencakup kegiatan Science Fair yang ditujukan untuk meningkatkan minat belajar anak-anak di desa. Mengingat sebagian besar warga menyelesaikan pendidikan hingga jenjang SMP, kegiatan ini diharapkan dapat memantik ketertarikan generasi muda terhadap sains dan pendidikan tinggi.

Dalam menjamin keberlanjutan program, HMM ITB mengidentifikasi warga yang memiliki keterampilan bengkel untuk menjadi penanggung jawab teknis mesin. Warga tersebut diberikan pemahaman mendalam mengenai desain, cara kerja, serta perawatan alat agar mampu melakukan penyesuaian mandiri jika terjadi kerusakan. Tim juga berkomitmen melakukan monitoring dan evaluasi berkala pada periode kepengurusan berikutnya.

Pelaksanaan Wanakarya tidak lepas dari tantangan geografis. Akses menuju Desa Wanasari yang berjarak sekitar tiga hingga empat jam perjalanan dari Bandung menghadirkan kendala berupa jalan berbatu, tanjakan curam, serta kondisi hujan yang sempat menyebabkan kendaraan mogok dan ban pecah. Beberapa agenda pun harus disesuaikan, dan tim menyelesaikan perakitan mesin hingga larut malam bersama warga.

Menurut Nabiel, esensi pengembangan masyarakat terletak pada pendekatan partisipatif. “Kami tidak bisa datang dengan mentalitas merasa paling tahu. Kami harus berbaur, memahami budaya, dan membangun kepercayaan dulu. Kalau caranya salah, niat baik pun bisa ditolak,” ujarnya.

Rekomendasi Berita