Ini Strategi Akses Terapi Kanker yang Lebih Efektif
- 13 Mar 2026 20:22 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Tiga mahasiswa Program Studi Sains dan Teknologi Farmasi 2022, Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung (SF ITB) meraih Juara 1 dalam ajang Pharmaceutical Industrial Case Study (PICS) Pharmanova ITB 2025, yang diumumkan pada beberapa waktu lalu. Mereka adalah Rendi Orvalo Wijaya, Sellin Leony, dan Brigitta Keysha Santoso yang tergabung dalam tim tim Dagosuites.
Kompetisi ini menantang peserta merancang solusi bagi industri farmasi, mulai dari proses produksi obat, pengawasan mutu, hingga strategi pemasaran. Pada kompetisi kali ini, peserta harus menyusun strategi pengembangan hingga akses terapi kanker menggunakan antibodi monoklonal, salah satu teknologi pengobatan kanker yang lebih tepat sasaran.
Dalam kompetisi ini, tim merancang strategi lengkap untuk pengembangan terapi kanker di Indonesia. Proposal yang mereka susun mencakup berbagai aspek, seperti proses produksi obat, pengelolaan mutu, regulasi, hingga strategi pemasaran.
Menurut Sellin, tantangan utama dari kasus yang diberikan adalah bagaimana menghadirkan terapi yang lebih efektif. Tetapi tetap bisa diakses oleh masyarakat.
“Kami mencoba mencari cara untuk menekan biaya pengembangan dan produksi. Sehingga terapi ini tetap bisa dijangkau oleh lebih banyak pasien,” ujarnya, Jumat 13 Maret 2026.
Ide tersebut muncul dari materi yang mereka pelajari di kelas mengenai teknologi produksi obat yang lebih efisien. Ide tersebut kemudian dikembangkan melalui studi literatur dan diskusi dengan dosen yang memiliki pengalaman di bidang industri farmasi.
Salah satu keunggulan proposal tim ini terletak pada strategi untuk menekan biaya produksi obat tanpa mengurangi kualitas terapi. Mereka mengusulkan penggunaan metode produksi yang lebih efisien, seperti sistem perfusi kontinu dan penggunaan peralatan sekali pakai pada beberapa tahap produksi.
Pendekatan ini dinilai dapat menurunkan biaya produksi sehingga harga terapi menjadi lebih terjangkau bagi pasien. “Kami tidak hanya fokus pada pengembangan obat, tetapi juga melihat dampak ekonomi dan strategi agar terapi ini bisa diakses oleh lebih banyak orang,” jelas Rendi.
Keberhasilan ini menunjukkan kemampuan mahasiswa Sekolah Farmasi ITB dalam menjawab tantangan industri farmasi masa depan. Ide yang mereka ajukan tidak hanya menekankan inovasi teknologi. Tetapi juga mempertimbangkan bagaimana terapi tersebut dapat diakses oleh masyarakat secara lebih luas.
Melalui kompetisi ini, para mahasiswa juga menunjukkan bahwa penelitian dan inovasi di bidang farmasi dapat berkontribusi dalam menghadirkan solusi. Yaitu bagi pengobatan penyakit serius seperti kanker.