Arumanis, Jajanan Tempo Dulu yang Kian Langka

  • 28 Feb 2026 19:30 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Arumanis, jajanan tradisional yang pernah menjadi primadona anak-anak pada masanya, kini semakin jarang ditemukan. Kudapan manis berwarna-warni yang terbuat dari gula dan dibentuk menyerupai kapas ini dahulu begitu lekat dengan suasana sore hari di kampung-kampung maupun halaman sekolah.

Pada era 1990-an hingga awal 2000-an, pedagang arumanis mudah dijumpai. Mereka berkeliling dari kampung ke kampung dengan membawa alat pemutar gula yang khas, menarik perhatian anak-anak yang penasaran melihat proses pembuatannya. Tak sedikit pula pedagang yang mangkal di depan sekolah saat jam istirahat atau pulang sekolah, ketika kerumunan siswa menjadi pasar potensial.

Namun, seiring perkembangan zaman, popularitas arumanis perlahan memudar. Kini, jajanan tersebut semakin sulit ditemui. Salah seorang pedagang arumanis, Yogi, mengaku penjualan saat ini jauh berbeda dibandingkan masa lalu.

“Untuk sekarang, peminat arumanis sangat berkurang. Padahal dulu jajanan ini sangat populer dan mudah ditemui, tidak seperti sekarang,” ujar Yogi, Sabtu 28 Februari 2026.

Menurutnya, perubahan pola konsumsi anak-anak menjadi salah satu faktor menurunnya minat terhadap jajanan tradisional. Kehadiran aneka camilan modern dengan kemasan menarik serta pengaruh teknologi dan media sosial membuat arumanis tersisih dari perhatian generasi muda.

“Sekarang anak-anak lebih tertarik dengan jajanan modern atau makanan yang sedang viral di media sosial. Mungkin karena perkembangan teknologi juga, jadi arumanis semakin jarang diminati,” tambahnya.

Yogi menjual arumanis dengan harga Rp10.000 per bungkus. Dalam sehari, ia hanya mampu menjual sekitar 10 hingga 20 bungkus. Jumlah tersebut tergolong menurun jika dibandingkan masa lalu, ketika penjualan bisa melampaui angka tersebut dalam waktu yang relatif singkat.

Meski demikian, Yogi tetap bertahan berjualan arumanis sebagai bentuk upaya menjaga keberadaan jajanan tradisional agar tidak hilang ditelan zaman. Baginya, arumanis bukan sekadar makanan ringan, melainkan bagian dari kenangan masa kecil banyak orang.

Arumanis memang memiliki daya tarik tersendiri. Proses pembuatannya yang unik—gula yang diputar hingga membentuk serat halus menyerupai kapas—sering kali menjadi hiburan tersendiri bagi anak-anak. Warna-warnanya yang cerah dan teksturnya yang lembut menambah kesan menyenangkan saat disantap.

Di tengah arus modernisasi dan perubahan gaya hidup, keberadaan arumanis menjadi pengingat akan kesederhanaan masa lalu. Pelestarian jajanan tradisional seperti arumanis membutuhkan dukungan berbagai pihak, baik masyarakat maupun pemerintah, agar warisan kuliner ini tetap dikenal oleh generasi mendatang.

Jika tidak dijaga, bukan tidak mungkin arumanis hanya akan tinggal cerita—menjadi bagian dari nostalgia yang sulit ditemukan di kehidupan sehari-hari.

Rekomendasi Berita