Babuka Puasa dan Bagarakan Sahur bagi Masyarakat Banjar

  • 02 Mar 2026 22:41 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin: Babuka puasa bukan sekadar kegiatan makan setelah berpuasa. Berbuka puasa adalah simbol kebersamaan yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat.

“Tradisi ini mencerminkan nilai gotong royong, rasa syukur, serta mempererat hubungan sosial antarwarga. Bahkan hidangan sederhana pun memiliki makna mendalam ketika dinikmati bersama dalam suasana kekeluargaan,”ujar Novia Winda, M.Pd, Dosen PBSI Universitas PGRI Kalimantan, Panderan Baisukan Pro4 RRI Banjarmasin, Senin 2 Maret 2026.

Panderan Baisukan membahas tradisi babuka puasa wan bagarakan sahur masyarakat Banjar. Tradisi Ramadan masyarakat Banjar tidak hanya bernilai religius, tetapi juga sarat makna sosial dan budaya yang terus hidup hingga saat ini.

Tradisi bagarakan sahur menjadi bagian penting dari identitas budaya Banjar. Aktivitas membangunkan sahur secara kolektif, baik melalui suara alat musik, pengeras suara, maupun kegiatan keliling kampung.

"Ini menunjukkan kepedulian sosial masyarakat untuk saling mengingatkan dalam menjalankan ibadah.

Menurut Novia, istilah bahasa Banjar seperti “babuka” dan “bagarakan” juga memperlihatkan kekayaan linguistik. Ini mencerminkan aktivitas bersama dalam budaya lokal.

Sementara Nazwa E. Syuhada, mahasiswi PBSI Universitas PGRI Kalimantan menyoroti pandangan generasi muda terhadap tradisi Ramadan. Dikatakan tradisi Ramadan kini mengalami perubahan seiring perkembangan teknologi.

"Meski cara pelaksanaannya mulai beradaptasi dengan zaman, semangat kebersamaan tetap menjadi nilai utama yang dirindukan. Media sosial justru dapat menjadi sarana baru untuk memperkenalkan kembali tradisi lokal kepada generasi muda agar tetap relevan," ucapnya.

Rekomendasi Berita