Makna Filosofi Nrimo Ing Pandum dalam Masyarakat Jawa

  • 05 Mar 2026 14:52 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin – Salah satu filosofi Jawa, nrimo ing pandum, memberikan pelajaran hidup tentang bagaimana bersikap saat menerima ketentuan yang telah menjadi bagian dari perjalanan seseorang. Nilai ini kerap dimaknai sebagai bentuk kebijaksanaan agar manusia tetap bersyukur atas keadaan yang dimiliki.

Hal tersebut disampaikan oleh Ilham Galih Pambudi, S.Pd., M.Pd., Willy Alfarius, M.A., dan Oktavian Hendra Prayitno, S.Pd., M.Pd., dalam acara Ragam Budaya Sambung Roso di RRI Pro4 Banjarmasin, Rabu malam, 4 Maret 2026. Mereka menjelaskan bahwa falsafah tersebut masih relevan sebagai pedoman hidup di tengah dinamika masyarakat modern.

Akademisi salah satu perguruan tinggi di Banjarmasin, Ilham Galih Pambudi, menjelaskan bahwa nrimo ing pandum bukan berarti pasrah tanpa usaha. Menurutnya, ungkapan yang telah lama melekat dalam budaya Jawa ini terdiri dari dua kata, yakni nrimo yang berarti menerima dan pandum yang berarti pemberian.

Ia menambahkan, makna menerima dalam falsafah tersebut tidak dapat dipisahkan dari proses ikhtiar. Manusia tetap dituntut untuk berusaha dan berdoa sebelum akhirnya menyerahkan hasilnya kepada kehendak Tuhan.

“Makna ungkapan ini tentu bukan pasrah begitu saja tanpa disertai usaha. Jadi terlebih dahulu ada usaha disertai doa, selebihnya baru memasrahkan semuanya atas kehendak-Nya,” ujar Ilham.

Pada kesempatan yang sama, Willy Alfarius, M.A., menilai falsafah nrimo ing pandum masih relevan diterapkan dalam kehidupan modern yang sarat persaingan. Menurutnya, pemahaman terhadap nilai tersebut dapat membantu seseorang menjalani hidup dengan lebih tenang dan tidak mudah iri terhadap pencapaian orang lain.

“Ungkapan ini mengajarkan kita agar berusaha dengan sungguh-sungguh, tetapi apa pun hasilnya harus diterima dengan lapang dada,” ujarnya. “Di situlah letak ketenangan batin yang diajarkan dalam budaya Jawa.”

Sementara itu, Oktavian Hendra Prayitno, S.Pd., M.Pd., menuturkan bahwa falsafah nrimo ing pandum sering disalahartikan sebagai sikap menyerah tanpa usaha. Padahal, dalam pemahaman budaya Jawa, ungkapan tersebut didahului oleh prinsip makaryo ing nyoto, yang berarti melakukan usaha secara nyata dan maksimal.

Ia menjelaskan bahwa falsafah tersebut berakar dari kehidupan masyarakat Jawa yang secara kosmologis bersifat agraris. Dalam pandangan itu, kehidupan manusia dipengaruhi oleh tiga unsur utama, yakni ikhtiar manusia, keteraturan alam, dan kehendak Tuhan.

“Falsafah ini berangkat dari pengalaman hidup masyarakat agraris, seperti petani yang mengolah lahan,” ucap Oktavian. “Ada segitiga kosmologi yang melingkupi manusia, yaitu ikhtiar, keteraturan alam, dan kehendak Tuhan, sehingga maknanya tidak bisa dipahami secara tekstual saja.”

Melalui pemahaman tersebut, masyarakat diharapkan tidak kehilangan semangat dalam meraih cita-cita. Terutama bagi generasi muda, penting untuk tetap berusaha dan berdoa, sekaligus percaya bahwa setiap hasil yang diberikan Tuhan adalah yang terbaik.

Rekomendasi Berita