Makna Ungkapan Banjar 'Tahadang Buah Bungur'

  • 14 Mar 2026 12:16 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Peribahasa 'tahadang buah bungur” merupakan salah satu kearifan lokal masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan yang masih tetap lestari hingga sekarang. Ungkapan itu menggambarkan kondisi seseorang atau lebih, saat menunggu sesuatu dengan harapan akan terjadi, namun tidak menjadi kenyataan.

Hal tersebut disampaikan Noorhalis Majid dan Arif Rahman Hakim dalam acara Ragam Budaya Bacangkurah, Pro.4 RRI Banjarmasin, Jumat, 13 Maret 2026. Menurutnya, ungkapan 'tahadang buah bungur' diambil dari gambaran pohon bungur yang sering berbunga lebat namun tak pernah berbuah.

Masyarakat Banjar mengambil pelajaran hidup dengan menilai jika pohon bungur selain lebat juga memiliki bunga yang indah. Kondisi itu seolah memberi tanda akan menghasilkan buah padahal tidak.

“Ini sindiran halus bagi seseorang yang terlalu lama menunggu sesuatu yang tak pasti. Ibaratnya, bungur itu janji manis, terlihat meyakinkan karena indah dan lebat bunganya tapi belum tentu berujung pada kenyataan,” ujar Noorhalis Majid.

Dikatakan, pohon bungur itu berulang kali hanya berbunga saja tanpa menghasilkan buah. Padahal seharusnya tahapan setelah berbunga adalah berbuah.

Seperti halnya janji akan diperkuat dengan komitmen nyata. Misalnya dalam hal perdagangan, maka seharusnya ada kesepakatan terlebih dulu dengah tanda jadi atau panjar;

Itu semua sebagai bukti kesungguhan agar janji tersebut benar-benar dipenuhi. Maka penting juga adanya batas waktu, saksi atau pihak ketiga ketika janji itu di lakukan.

"Ini juga berlaku pada persoalan janji-janji lainnya, jika tanpa bukti dan sering dilakukan maka orang tidak percaya lagi. Apalagi di era sekarang akan ada jejak digitalnya," ucap Noorhalis Majid menjelaskan

Sementara itu Arif Rahman Hakim juga mengungkapkan jika peribahasa “tahadang buah bungur”, memiliki makna bahwa masyarakat diingatkan untuk lebih realistis dalam meletakkan harapan. Ungkapan ini tidak hanya menjadi sindiran terhadap janji yang tidak pasti, tetapi juga pengingat.

Pengingat agar seseorang tidak terus-menerus menunggu sesuatu yang sia-sia tanpa kepastian, baik pada persoalan ekonomi, politik ataupun lainnya. Ia menilai bahwa salah satu nilai hidupnya orang Banjar adalah agama Islam yakni mengajarkan setiap janji harus ditepati.

"Selain mengajarkan janji yang harus ditepati, ungkapan ini sekaligus juga penting bagi orang yang diberi janji agar jangan terlalu berharap," ucap Arif

Penting untuk tetap menyisakan sedikit ruang agar nantinya tidak terlalu kecewa. Sekalipun tanda-tandanya sudah sangat jelas, namun jika tidak kunjung terealisasi maka tak ubahnya seperti 'tahadang buah bungur'.

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠

Rekomendasi Berita