Puasa Menjadi Metafora dalam Puisi
- 21 Feb 2026 16:42 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Sastrawan Rasyid Zaki mengatakan, momen berbuka sebagai 'kemenangan kecil' setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Detik-detik azan Magrib hingga tegukan pertama air menyimpan rasa syukur yang kuat. Momentum tersebut bisa menjadi metafora dalam puisi.
Hal itu dikemukakannya dalam Ruang Sastra program Ragam Budaya Pro4 RRI Banjarmasin, Kamis, 19 Februari 2026. Zaki menggambarkan bahwa puisi dapat menjadi “takjil batin” sebagaimana makanan menjadi takjil bagi tubuh.
"Detail sederhana seperti suara sendok, aroma hidangan, hingga suasana meja makan dinilai mampu menghadirkan kedalaman makna dalam karya sastra," kata Zaki.
Dalam dialog sastra bertajuk “Pasca Berbuka Puisi” sastrawan asal Martapura itu hadir bersama Alvian Ali dari Sungai Tabuk Kabupaten Banjar. Mereka berencana melanjutkan Tarawih usai dialog selesai.
Sementara itu, Alvi menuturkan bahwa Ramadan membuat penyair lebih peka terhadap pengalaman personal, seperti rindu keluarga atau momen berbuka sendirian. Alvi menilai puasa justru menghadirkan perspektif yang lebih spesifik dan emosional dalam menulis.
“Setiap fase Ramadan, dari sahur hingga setelah berbuka, punya cerita yang bisa diolah menjadi puisi,” ujarnya.
Dikatakan, kondisi lapar atau kenyang bukan penentu kualitas karya, melainkan kejujuran rasa yang dituangkan. Menjelang akhir siaran, keduanya sepakat bahwa pasca berbuka adalah ruang kontemplasi yang jarang disadari banyak orang.
"Momentum tersebut sebagai titik peralihan dari fisik menuju batin, dari kebutuhan jasmani menuju kesadaran spiritual yang lebih dalam," ucapnya, sambil menutup siaran dengan pembacaan puisi dan refleksi singkat tentang bagaimana Ramadan melatih kepekaan rasa, disiplin, serta rasa syukur.