Hari Pendidikan Internasional, Begini Sejarahnya

  • 23 Jan 2026 07:09 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin – Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menetapkan 24 Januari sebagai Hari Pendidikan Internasional. Peringatan ini menjadi momentum global untuk menegaskan peran pendidikan dalam mendorong perdamaian dan pembangunan berkelanjutan.

Dilansir dari unesco.org, Hari Pendidikan Internasional ditetapkan oleh Majelis Umum PBB pada 3 Desember 2018. Penetapan tersebut bertujuan merayakan pendidikan sebagai hak asasi manusia, kepentingan publik, sekaligus tanggung jawab bersama seluruh negara.

PBB menegaskan bahwa tanpa pendidikan yang inklusif, adil, dan berkualitas, serta kesempatan belajar sepanjang hayat bagi semua, dunia tidak akan mampu mencapai kesetaraan gender dan memutus mata rantai kemiskinan. Hingga kini, jutaan anak, remaja, dan orang dewasa masih tertinggal dari akses pendidikan yang layak.

Ilustrasi suasana belajar di sekolah. (Foto: RRI Banjarmasin/Generate ChatGPT)

Data global yang dirilis UNESCO menunjukkan sekitar 250 juta anak dan remaja masih tidak bersekolah, sementara 763 juta orang dewasa belum melek huruf. Kondisi ini dipandang sebagai pelanggaran hak atas pendidikan yang tidak dapat ditoleransi dan menuntut transformasi sistem pendidikan secara menyeluruh.

Dalam konteks perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), pendidikan menghadapi tantangan sekaligus peluang besar. Revolusi teknologi mendorong perubahan cara belajar dan mengajar, sehingga peran manusia dalam pendidikan menjadi semakin penting untuk memastikan nilai-nilai kemanusiaan tetap terjaga.

Kaum muda di bawah usia 30 tahun yang mencakup lebih dari setengah populasi dunia dipandang sebagai motor penggerak pembangunan berkelanjutan dan inovasi. Namun, mereka juga menjadi kelompok yang paling terdampak oleh kemiskinan, ketimpangan, dan keterbatasan akses pendidikan serta pekerjaan layak.

PBB menekankan pentingnya melibatkan pelajar dan generasi muda secara bermakna dalam merancang masa depan pendidikan. Di tengah dunia yang semakin otomatis, pendidikan diharapkan tidak hanya membekali keterampilan teknis, tetapi juga membentuk karakter, kreativitas, dan tanggung jawab sosial demi masa depan umat manusia.

Rekomendasi Berita