Medsos Picu Depresi Remaja di Tengah Konektivitas Digital
- 28 Jan 2026 21:52 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Banyak mahasiswa kini merasa cemas saat melihat unggahan postingan teman-temannya di media sosial setiap hari. Mereka sering membandingkan diri dengan pencapaian orang lain di dunia maya.
Fadil, Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat, mengaku sering merasa rendah diri saat membuka Instagram. Ia merasa tertinggal saat melihat teman-temannya pamer liburan atau prestasi akademik.
"Saya jadi malas buka aplikasi karena isinya orang pamer semua," kata Andi, di Banjarmasin, Rabu, 28 Januari 2026.
"Rasanya hidup saya begini-begini saja dibanding mereka yang terlihat sukses," ujarnya.
Perasaan cemas ini membuatnya sulit tertidur dan kurangnya berkonsentrasi saat mengikuti kuliah di pagi hari. Fadil akhirnya memutuskan untuk membatasi penggunaan gawai hanya dua jam dalam sehari.
Hal serupa dirasakan Rina, seorang mahasiswi semester akhir di kampus swasta Banjarmasin. Ia sering merasa tertekan karena komentar negatif atau cyberbullying oleh netizen di akun pribadinya.
"Komentar orang asing kadang bikin sakit hati sampai berhari-hari," ujar Rina, menceritakan pengalamannya.
"Padahal saya cuma membagikan hobi masak, tapi ada saja yang mencela," ucapnya.
Kini Rina lebih selektif dalam memilih teman di dunia maya demi menjaga kesehatan mentalnya. Ia juga memprivat akun media sosialnya agar lebih aman.
Hal ini menunjukkan bahwa dunia maya tidak selalu membawa dampak yang positif bagi penggunanya. Kesadaran diri dalam hal ini juga diperlukan agar media sosial tidak menjadi sumber depresi bagi kalangan anak muda.