Rambai Batutuk, Kuliner Langka di Bulan Ramadan

  • 23 Feb 2026 15:50 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Ramadan di kawasan Teluk Tiram Antasan Raden, Banjarmasin Barat, selalu identik dengan kehadiran Rambai Batutuk. Cemilan kuliner khas ini hanya bisa ditemui di kawasan tersebut saat bulan puasa Ramadan.

Kuliner tradisional ini berbahan dasar buah bakau dengan nama latin Rhizophora mucronata. Pengolahannyha secara manual dengan cara tradisional.

Salah satu pembuat yang masih setia menjaga warisan rasa ini adalah Wahidah. Ibu 3 orang anak ini sudah puluhan tahun berjualan setiap Ramadan. Tempat jualan di depan rumahnya di Jalan Teluk Tiram Darat, samping Gang Harmoni, mulai pukul 17.00 hingga 22.00 WITA.

Proses pembuatan Rambai Batutuk terbilang berat dan cukup memakan waktu. Buah rambai yang dipilih harus mentah dan keras, lalu dicincang tipis menggunakan parang sebelum ditumbuk hingga halus menggunakan lasung kayu ulin.

Jika menggunakan lasung besi, warna adonan akan berubah menjadi hitam sehingga kayu ulin menjadi pilihan utama. Setelah hancur, rambai dicampur garam, mecin, ikan asin, mangga muda, dan cabai rawit sesuai takaran.

"Kalau mangga muda tidak tersedia, bisa diganti belimbing tunjuk atau jeruk nipis untuk menghadirkan sensasi asam, gurih, dan pedas yang khas," kata Wahidah.

Wahidah mengaku tidak banyak warga yang mau membuat Rambai Batutuk karena prosesnya yang cukup menguras tenaga. Meski demikian, ia tetap mempertahankan cara tradisional demi menjaga cita rasa asli.

“Rambainya keras sekali, harus dicincang dan ditumbuk berjam-jam sampai benar-benar halus,” ujarnya.

Cemilan ini dijual dengan harga terjangkau, hanya Rp1.000 per sendok makan. Dahulu, Rambai Batutuk kerap dijadikan lauk pendamping nasi putih, namun kini lebih populer sebagai cemilan atau pelengkap rujak saat berbuka puasa.

Wahidah hanya menjual Rambai Batutuk selama Ramadan karena selain rasanya yang segar dan menggugah selera, makanan ini juga membuat kenyang lebih lama. Tak heran, kurang dari dua jam setelah dibuka, jualannya kerap habis lebih dulu dibanding aneka buah rujak lainnya.

"Pelanggan setianya tak hanya warga sekitar. ada juga dari Jakarta, setiap pulang kampung pasti pesan banyak,” ucapnya.

Rekomendasi Berita