Self Love Rapuh Akibat Luka Masa Kecil
- 01 Mar 2026 08:59 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Serang - Luka masa kecil yang tidak terselesaikan dapat berdampak panjang terhadap cara seseorang memandang dan mencintai dirinya sendiri. Konselor Aku Temanmu, Nurul Amanah, mengatakan, pengalaman masa kecil seperti kurangnya validasi, pola asuh keras, perbandingan berlebihan, hingga pengabaian emosional bisa membentuk keyakinan negatif tentang diri.
Nurul menjelaskan, pengalaman masa kecil seperti kurangnya validasi, pola asuh keras, perbandingan berlebihan, hingga pengabaian emosional bisa membentuk keyakinan negatif tentang diri.
“Banyak orang merasa dirinya tidak cukup baik, tidak layak dicintai, atau selalu takut ditinggalkan. Akar dari perasaan itu sering kali berasal dari luka masa kecil yang belum diproses dengan tuntas,” ujarnya, Jumat, 27 Februari 2026.
Menurutnya, luka tersebut kerap tidak disadari karena dianggap sebagai bagian normal dari proses tumbuh kembang. Padahal, ketika memasuki usia remaja dan dewasa, luka itu bisa muncul dalam bentuk overthinking, people pleasing, sulit berkata tidak, hingga kecenderungan menyalahkan diri sendiri.
“Self love bukan sekadar afirmasi positif di media sosial. Ia lahir dari penerimaan diri yang utuh, termasuk menerima bagian diri yang pernah terluka,” katanya.
Nurul menambahkan, seseorang yang memiliki luka batin cenderung mencari validasi eksternal secara berlebihan. Mereka merasa berharga hanya ketika diakui orang lain.
“Kalau sejak kecil cinta terasa bersyarat, maka saat dewasa kita tumbuh dengan keyakinan bahwa kita harus selalu sempurna agar diterima,” ucapnya.
Untuk memulai proses penyembuhan, Nurul menyarankan langkah refleksi atau mengenali kembali pengalaman masa kecil yang membekas secara emosional. Ia juga menekankan pentingnya memvalidasi perasaan diri sendiri. “Tidak apa-apa mengakui bahwa kita pernah terluka. Itu bukan tanda lemah, justru itu langkah awal untuk membangun self love yang sehat,” ujarnya.
Selain itu, membangun batasan yang sehat dan berlatih self compassion menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Dengan memahami akar luka dan memberi ruang untuk sembuh, seseorang dapat membangun hubungan yang lebih sehat, baik dengan diri sendiri maupun orang lain.