Teguhkan Kebhinekaan Lewat Kirab Budaya
- 15 Feb 2026 21:34 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Serang - Kirab dan pentas seni budaya lintas etnis, suku, dan agama digelar di Royal Baroe, Kota Serang, Minggu, 15 Februari 2026. Kegiatan bertema "Merawat Kebhinekaan, Meneguhkan Persaudaraan Lintas Agama Melalui Budaya" ini dilaksanakan dalam rangka mapag puasa Ramadan 1447 H dan perayaan Imlek 2577/2026.
Acara yang diprakarsai Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Serang tersebut menghadirkan peserta dari lima agama, lintas iman, lintas etnis, dan lintas suku. Beragam penampilan seni dan budaya ditampilkan dalam satu panggung sebagai simbol persaudaraan masyarakat Kota Serang yang majemuk.
Ketua FKUB Kota Serang, KH Matin Syarkowi mengatakan, Kota Serang merupakan daerah yang kaya ragam budaya, etnis, suku, dan agama. Keberagaman itu, menurutnya, telah mengakar sejak masa Kesultanan Banten.
“Sejak dahulu kala di Kesultanan Banten ini masyarakat sudah hidup harmonis, saling memahami dan saling mendukung. Itu bukan hal baru bagi kita,” ujar Matin.
Ia mencontohkan keberadaan Pelabuhan Internasional Karangantu pada masa lalu sebagai bukti keterbukaan masyarakat Banten terhadap berbagai bangsa dan latar belakang.
“Karangantu pernah menjadi pelabuhan internasional. Itu menunjukkan masyarakat Banten sangat terbuka terhadap siapa pun,” katanya.
Menurut Matin, keterbukaan tersebut menjadi landasan dalam merawat kehidupan beragama di Kota Serang saat ini. Siapa pun yang tinggal dan menjadi warga Serang, kata dia, tetap memiliki kewajiban menjaga nilai kebersamaan.
“Di mana bumi diinjak, di situ langit dijunjung. Keberagaman ini bukan untuk diseragamkan, tetapi dirawat. Berbeda itu indah dan menjadi potensi untuk kita bersatu,” ucapnya.
Ia menjelaskan, kirab lintas iman yang digelar menjelang Ramadan dan bertepatan dengan Imlek menjadi pesan kuat bahwa perbedaan bukan penghalang untuk membangun persaudaraan. Bahkan ke depan, kegiatan serupa juga dapat bersanding dengan momentum keagamaan lainnya seperti Nyepi.
“Pesannya jelas, berbeda itu indah. Kita tetap beragam, tetapi dalam keberagaman itu kita menjunjung Indonesia,” ujarnya.
Matin menilai kerukunan di Kota Serang selama ini terjaga. Ia mencontohkan momen Natal dan Tahun Baru, di mana tokoh lintas agama saling hadir sebagai bentuk persaudaraan kebangsaan.
“Kehadiran kita di gereja, di pura, di kelenteng itu bukan soal akidah, tetapi merajut kemanusiaan dan persaudaraan sebagai satu bangsa dan satu tanah air,” katanya.
Ia juga menyebut dukungan Pemerintah Kota Serang terhadap kegiatan kerukunan sudah terlihat, termasuk perhatian dalam kebijakan anggaran untuk mendukung kegiatan lintas agama.
Sementara perwakilan umat Hindu Kota Serang, Eko Sudono, menyambut baik kirab dan pentas seni lintas iman tersebut. Ia menilai budaya menjadi titik temu yang mampu mempererat hubungan antarumat beragama.
“Setiap agama, setiap suku, setiap ras punya nilai budaya yang menjadi bagian dari Nusantara. Ketika semua ditampilkan bersama, di situlah ruang kebersamaan itu hadir,” ujar Eko.
Ia menyebut Kota Serang sebagai daerah multietnis dan multiagama membutuhkan panggung bersama agar masyarakat saling mengenal dan memahami.
“Kita satu Nusantara, satu bangsa, satu Indonesia. Apa pun agamanya, apa pun rasnya, tetap satu Indonesia,” ucapnya.
Apresiasi juga disampaikan Pendeta HKBP Resort Serang, Erwin Marbun. Ia mengaku merasakan suasana kebersamaan yang kuat dalam kegiatan tersebut dan melihat peran FKUB semakin dirasakan masyarakat lintas agama.
“Ada pandangan yang keliru tentang forum kerukunan. Tapi hari ini kita melihat ini benar-benar ruang kedamaian dan persaudaraan. Itu yang dirindukan semua agama,” ujar Erwin.
Ia yang melayani di Serang sejak 2023 juga menilai pemerintah daerah hadir dan dekat dengan umat beragama.
“Sejauh yang saya alami, pemerintah tidak lepas pandang dari umat beragama. Kehadirannya terasa dekat dan kekeluargaan,” katanya.
Kirab dan pentas seni budaya lintas etnis, suku, dan agama tersebut diharapkan menjadi agenda tahunan di Kota Serang. Selain menjadi bagian dari mapag Ramadan dan perayaan Imlek, kegiatan ini dinilai sebagai langkah konkret menjaga toleransi serta memperkuat persaudaraan lintas agama di tengah keberagaman masyarakat.