Warga Banten Diajak Jaga Kearifan Lokal Bulan Ramadan

  • 23 Feb 2026 11:53 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Serang - Masyarakat Banten memiliki cara unik dalam menyambut dan mengisi bulan suci Ramadan dengan berbagai tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun. Tradisi seperti munggahan, ziarah kubur, hingga ngupat bukan sekadar kebiasaan, melainkan bentuk akulturasi budaya yang memperkuat nilai religiusitas masyarakat.

Budayawan Banten sekaligus Sekretaris Adat Kesepuhan Cisungsang, Henriana Hatra menjelaskan, kearifan lokal yang ada saat ini merupakan hasil percampuran harmonis antara tradisi nenek moyang dan ajaran Islam. Menurutnya, masyarakat Banten sejak dulu sangat terbuka terhadap nilai-nilai baru yang membawa kebaikan.

"Bahwa di khusus di bagian selatan, masyarakat adat dengan berbagai nilai kearifan lokal sudah ada sejak sebelum Islam masuk. Ketika Islam masuk ke Banten, terjadi akulturasi budaya lokal dan ajaran Islam," ujar Henriana saat berdialog di RRI Banten, Minggu, 22 Februari 2026.

Salah satu tradisi yang paling populer adalah munggahan. Henriana menyebut tradisi ini sebagai simbol kegembiraan dan bentuk syukur dalam menyambut bulan puasa. Aktivitas makan bersama atau botram yang menyertainya merupakan cerminan sifat masyarakat Sunda yang egaliter dan menjunjung tinggi kebersamaan.

"Munggahan ini menyentuh banyak kalangan, tidak hanya masyarakat biasa tetapi juga anak muda. Ini adalah momentum silaturahmi, persiapan mental, maupun spiritual kita dalam menghadapi Ramadan," katanya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa istilah-istilah lokal seperti kupat juga memiliki makna filosofis yang mendalam. Kupat sering diartikan sebagai ngaku lepat atau mengakui kesalahan, yang selaras dengan nilai pembersihan diri di bulan suci. Meski zaman telah berubah ke arah digital, Henriana berharap generasi muda tetap menjaga identitas budaya ini. Ia meminta para tokoh masyarakat dan orang tua untuk terus memperkenalkan tradisi ini kepada anak cucu agar tidak tergerus arus modernisasi.

"Kearifan lokal ini sebenarnya mendukung ibadah kita di bulan Ramadan. Kita harus tetap menjaga tradisi lokal kita yang selama ini tidak resisten dengan kewajiban dalam agama Islam," ucap Henriana.

Melalui pelestarian kearifan lokal, Ramadan di Banten diharapkan tidak hanya menjadi ritual ibadah personal, tetapi juga menjadi perekat sosial yang menjaga harmoni antarwarga.

Rekomendasi Berita