Baca Fiksi Efektif Tumbuhkan Rasa Empati
- 04 Mar 2026 14:45 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Serang – Membaca dan menulis fiksi dinilai menjadi salah satu cara efektif menumbuhkan empati di tengah derasnya arus digitalisasi dan perkembangan kecerdasan buatan (AI). Hal tersebut disampaikan oleh Widyabasa Ahli Pertama Kantor Bahasa Provinsi Banten, Tsalaisye Nur Fajjriyah saat berbicang bersama Programa 1 RRI Banten, Rabu, 4 Maret 2026.
Isye panggilan akrabnya menegaskan bahwa fiksi bukan sekadar bacaan hiburan. Menurutnya, cerita rekaan justru memiliki kekuatan membangun kepekaan sosial pembacanya.
“Minat baca memang meningkat sejak 2022, tetapi masih di bawah rata-rata dunia. Banyak yang membaca hanya sebatas huruf, belum sampai memahami maknanya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, meskipun angka melek huruf di Indonesia terus mengalami peningkatan, kemampuan memahami isi bacaan masih menjadi tantangan. Kebiasaan membaca yang belum terbentuk kuat serta kurangnya latihan memahami teks membuat literasi belum optimal.
Ia menuturkan, membaca fiksi memberikan pengalaman berbeda dibanding bacaan nonfiksi. Dalam cerita fiksi, pembaca diajak menyelami karakter, konflik, serta latar sosial yang kompleks. “Melalui tokoh-tokoh dalam cerita, kita belajar memahami perasaan orang lain tanpa harus mengalaminya langsung. Di situlah empati tumbuh,” ujarnya.
Ia mencontohkan novel “Ronggeng Dukuh Paruk” karya Ahmad Tohari yang tidak hanya menyuguhkan kisah dramatik, tetapi juga merekam dinamika sosial dan sejarah. Dari karya tersebut, pembaca dapat memperluas wawasan sekaligus memahami latar budaya masyarakat pada masanya.
Di tengah kemajuan AI, Salaisyah mengingatkan agar teknologi dimanfaatkan secara bijak. Menurutnya, AI dapat membantu dalam mencari ide atau menyusun kerangka tulisan, tetapi tidak mampu menggantikan empati manusia.
“Cerita yang lahir dari pengalaman dan perasaan manusia akan terasa lebih hidup,” ujarnya. Ia berharap generasi muda tetap meluangkan waktu membaca fiksi sebagai upaya melatih kepekaan dan berpikir kritis. “Apapun profesinya, empati adalah bekal penting agar kita tidak mudah menelan informasi mentah-mentah,” ujarnya.