AI Tak Bisa Gantikan Empati Penulis Manusia
- 05 Mar 2026 16:34 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Serang – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin memengaruhi berbagai bidang, termasuk dunia kepenulisan. Meski demikian, teknologi tersebut dinilai belum mampu menggantikan peran manusia, terutama dalam menghadirkan empati di dalam karya tulis.
Widyabasa Ahli Pertama Kantor Bahasa Provinsi Banten, Tsalaisye Nur Fajjriyah mengatakan AI pada dasarnya hanya mengolah data yang tersedia. Menurutnya, kemampuan tersebut berbeda dengan manusia yang mampu merasakan emosi secara mendalam.
“AI hanya mengolah data. Ia tidak merasakan kehilangan, cinta, atau luka. Empati itulah yang membuat tulisan manusia terasa hidup,” ujarnya saat berbicang bersama Programa 1 RRI Banten, Rabu, 4 Maret 2026.
Ia menjelaskan, teknologi AI memang dapat dimanfaatkan untuk membantu proses penulisan, seperti menyusun kerangka tulisan, mencari referensi, atau merangkum informasi. Namun, AI tidak bisa sepenuhnya menggantikan peran penulis sebagai kreator utama dalam menghasilkan karya.
Menurutnya, kekuatan utama karya fiksi terletak pada kedalaman emosi yang disampaikan oleh penulis. Ketika seorang penulis mampu mengeksplorasi perasaan tokoh dalam cerita, pembaca akan lebih mudah terhubung secara emosional dengan alur yang disajikan.
“Kalau hanya berbasis data, hasilnya mungkin rapi, tetapi terasa hambar,” ujarnya. Ia menilai empati menjadi unsur penting yang membedakan karya manusia dengan hasil mesin.
Tanpa empati, sebuah tulisan hanya akan menjadi rangkaian kata tanpa makna emosional yang kuat bagi pembaca. Karena itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga peran manusia sebagai kreator utama dalam dunia kepenulisan.
“Kalau empati hilang, manusia bisa kalah dari robot,” ujarnya.
Ia juga mendorong masyarakat untuk tetap aktif membaca dan menulis secara mandiri di tengah perkembangan teknologi digital. Kebiasaan tersebut dapat melatih kepekaan sosial serta kemampuan berpikir kritis dalam memahami berbagai sudut pandang.
“Gunakan AI sebagai alat, bukan pengganti. Imajinasi dan empati adalah kekuatan manusia yang harus terus diasah,” ujarnya.