Buku Suara dari Alaska, Jadi Refleksi Kehidupan Heru Anwari
- 12 Mar 2026 10:53 WIB
- Banten
RRI.CO.ID, Serang - Atlet BMX nasional, Heru Anwari, menuangkan pengalaman perjalanannya di Amerika Serikat dalam sebuah buku esai berjudul Suara dari Alaska. Buku tersebut berisi refleksi perjalanan yang tidak hanya menggambarkan pengalaman bertualang, tetapi juga pemaknaan kehidupan yang ia temui selama berada di luar negeri.
Heru menjelaskan, buku ini lahir dari pengalamannya mengikuti tur ke Amerika pada tahun 2024. Dari perjalanan tersebut, ia merekam berbagai peristiwa dan pertemuan yang kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan reflektif.
“Ini sebenarnya kumpulan esai reflektif dari perjalanan tur di Amerika tahun 2024. Dari perjalanan itu banyak hal yang rasanya sayang kalau tidak dituliskan,” ujarnya saat berbincang di Pro 2 RRI Banten, Rabu, 11 Maret 2026.
Buku Suara dari Alaska memuat sepuluh esai yang membahas beragam tema, mulai dari perjalanan, perbandingan budaya, hingga refleksi mengenai nilai kehidupan dan finansial. Melalui pengalaman tersebut, Heru mencoba menunjukkan perbedaan cara pandang masyarakat di berbagai negara yang pernah ia kunjungi.
Dalam salah satu bagian buku, Heru menyoroti persepsi banyak orang yang menganggap Amerika sebagai tempat yang ideal atau “surga”. Namun dari pengalamannya secara langsung, ia melihat realitas kehidupan di sana tidak selalu seindah yang dibayangkan.
“Orang sering mengira Amerika itu seperti surga. Tapi ketika kita sudah sampai di sana, ternyata tidak selalu seperti itu. Justru kita bisa melihat bahwa Indonesia punya banyak hal yang patut disyukuri,” katanya.
Refleksi tersebut juga muncul dari berbagai peristiwa yang ia saksikan, termasuk fenomena sosial hingga bencana seperti kebakaran hutan besar di Amerika. Dari pengalaman itu, Heru menilai perjalanan ke luar negeri dapat menjadi cara untuk memahami kehidupan secara lebih luas sekaligus menghargai kondisi di tanah air.
Melalui buku ini, Heru berharap pembaca dapat memandang perjalanan ke luar negeri secara lebih kritis dan tidak selalu menjadikan negara lain sebagai standar kebahagiaan, melainkan sebagai sarana belajar untuk memahami kehidupan dengan perspektif yang lebih luas.