Warga Lebak Diminta Waspadai Virus Nipah

  • 03 Feb 2026 19:16 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Lebak - Masyarakat Kabupaten Lebak diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran virus Nipah. Langkah antisipasi ini diambil meski hingga saat ini belum ditemukan satu pun kasus terkonfirmasi di wilayah Indonesia.

Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Kabupaten Lebak, Firman Rahmatullah menegaskan, pentingnya kewaspadaan dini di tengah masyarakat. Hal tersebut disampaikannya saat ditemui di Rangkasbitung  Rabu, 3 Februari 2026, sebagai bentuk respons terhadap perkembangan situasi kesehatan global.

Virus Nipah sendiri merupakan penyakit zoonotik emerging yang patut diwaspadai karena tingkat fatalitasnya. Penyakit ini disebabkan oleh virus yang menjadi anggota dari genus Henipavirus dan termasuk dalam famili Paramyxoviridae.

"Secara alami, virus ini memiliki reservoir pada kelelawar buah dari genus Pteropus sp. Kelelawar ini bertindak sebagai pembawa virus yang kemudian dapat menularkannya kepada manusia, baik secara langsung maupun melalui perantara hewan ternak seperti babi," kata dia.

Selain melalui hewan, penularan juga dapat terjadi melalui konsumsi makanan atau minuman yang telah terkontaminasi oleh cairan tubuh kelelawar. Contoh yang paling sering ditemukan adalah buah-buahan atau air nira yang terkena liur atau kotoran kelelawar yang terinfeksi.

Firman Rahmatullah menjelaskan bahwa penularan antar-manusia juga menjadi ancaman serius. Kontak erat dengan penderita yang sudah terinfeksi dapat memicu penyebaran virus secara berantai di lingkungan keluarga maupun fasilitas kesehatan.

Manifestasi klinis dari serangan virus Nipah ini diketahui sangat bervariasi, mulai dari gejala yang tampak ringan hingga kondisi kritis. Pasien dapat mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dengan intensitas ringan hingga berat yang mengganggu sistem pernapasan. Kondisi yang paling mengkhawatirkan adalah risiko terjadinya ensefalitis atau peradangan otak yang sangat berbahaya. 

Jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat, infeksi pada sistem saraf pusat ini dapat berakibat pada kematian bagi penderitanya. Menilik sejarahnya, wabah Nipah pertama kali terdeteksi pada periode tahun 1998 hingga 1999 di Malaysia. Saat itu, wabah menyerang para peternak babi di Desa Sungai Nipah sebelum akhirnya meluas hingga ke negara tetangga, Singapura.

Setelah periode tersebut, kasus pada manusia terus tercatat di berbagai negara seperti India, Bangladesh, dan Filipina sepanjang tahun 2001 hingga 2026. Penyakit ini dilaporkan terus menyebar secara sporadis, terutama di wilayah Asia Selatan.

Melihat fakta geografis tersebut, Indonesia dianggap memiliki risiko yang cukup tinggi. Kedekatan wilayah serta tingginya intensitas mobilitas penduduk dengan negara-negara yang pernah mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) menjadi alasan kuat untuk tetap bersiaga.

Terkait pencegahan, Firman mengimbau masyarakat untuk kembali memperketat protokol kesehatan dasar. Penggunaan masker dan upaya menghindari kerumunan dinilai masih sangat efektif untuk mencegah penularan penyakit mematikan yang menyerang pernapasan ini.

Dinkes juga memberikan perhatian khusus pada konsumsi hasil sadapan pohon. Masyarakat diminta untuk tidak meminum air nira atau aren langsung dari pohonnya karena risiko kontaminasi oleh kelelawar pada malam hari sangatlah tinggi.

Firman Rahmatullah memberikan saran praktis bagi warga dalam mengolah bahan makanan. "Karena itu bila mengonsumsi aren atau nira, sebaiknya dimasak terlebih dahulu. Kemudian cuci dan kupas buah secara menyeluruh, serta buang buah yang ada tanda gigitan kelelawar," kata Firman.

Rekomendasi Berita