Sejarah Ketupat, Simbol Tradisi Lebaran di Indonesia
- 12 Mar 2026 09:15 WIB
- Bengkalis
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Ketupat merupakan salah satu hidangan khas yang hampir selalu hadir dalam perayaan Idulfitri di Indonesia. Makanan yang terbuat dari beras dan dibungkus dengan anyaman daun kelapa muda atau janur ini tidak hanya menjadi pelengkap hidangan Lebaran, tetapi juga memiliki makna filosofi dan sejarah panjang dalam budaya masyarakat Nusantara.
Menurut sumber literasi sejarah dan kebudayaan Indonesia, sejarah ketupat dipercaya berkaitan dengan penyebaran Islam di Pulau Jawa pada abad ke-15. Tradisi ini sering dikaitkan dengan salah satu tokoh Wali Songo, yaitu Sunan Kalijaga.
Ia dikenal menggunakan pendekatan budaya dalam menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat Jawa. Melalui tradisi ketupat, Sunan Kalijaga memperkenalkan nilai-nilai religius dengan cara yang mudah diterima oleh masyarakat saat itu.
Dalam tradisi Jawa, ketupat memiliki makna simbolis. Kata “ketupat” atau “kupat” sering diartikan sebagai singkatan dari “ngaku lepat” yang berarti mengakui kesalahan. Hal ini selaras dengan semangat Idulfitri yang menjadi momen untuk saling memaafkan setelah menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadan.
Selain itu, bentuk anyaman ketupat yang rumit melambangkan berbagai kesalahan manusia, sedangkan warna putih ketika ketupat dibelah menggambarkan hati yang bersih setelah saling memaafkan. Sementara itu, beras yang menjadi isi ketupat melambangkan kemakmuran dan harapan akan kehidupan yang lebih baik.
Tradisi makan ketupat juga berkembang dalam perayaan yang dikenal sebagai Lebaran Ketupat. Di sejumlah daerah di Indonesia, perayaan ini biasanya dilakukan sekitar satu minggu setelah Idulfitri. Pada momen tersebut, masyarakat berkumpul bersama keluarga dan tetangga untuk menikmati hidangan ketupat yang disajikan dengan berbagai lauk seperti opor ayam, rendang, atau sambal goreng.
Seiring berjalannya waktu, ketupat tidak hanya menjadi makanan khas Lebaran, tetapi juga bagian dari identitas budaya masyarakat Indonesia. Kehadirannya setiap tahun menjadi simbol kebersamaan, saling memaafkan, dan mempererat hubungan kekeluargaan dalam perayaan Idulfitri.