Hangatnya Makan Besar Satukan Keluarga saat Perayaan Imlek
- 17 Feb 2026 16:00 WIB
- Bengkalis
RRI.CO.ID.Bengkalis - Bagi sebagian masyarakat, perayaan Tahun Baru Imlek identik dengan warna merah menyala, gemuruh petasan, dan atraksi barongsai. Namun bagi masyarakat Tionghoa, inti perayaan justru berpusat di ruang makan, melalui tradisi Tuan Yuan Fan atau makan besar keluarga pada malam pergantian tahun.
Tradisi yang juga dikenal secara internasional sebagai Reunion Dinner ini digelar pada malam Chúxī, malam terakhir sebelum tahun baru penanggalan Tionghoa dimulai. Dikutip dari bacaini, momen tersebut menjadi waktu yang paling dinanti, bahkan kerap menjadi alasan utama para perantau untuk pulang kampung. Bagi keluarga Tionghoa, inilah saat menyatukan kembali yang terpencar.
1. Meja Bundar, Simbol Keutuhan Keluarga
Makan besar Imlek lazim dilakukan di meja bundar. Bentuk bulat dalam budaya Tionghoa melambangkan yuanman atau kesempurnaan dan keutuhan. Tidak ada sudut tajam, tidak ada posisi lebih tinggi dari yang lain. Semua duduk setara, melingkar dalam kebersamaan.
Di meja inilah restu orang tua disampaikan, bakti anak-anak ditunjukkan, dan percakapan hangat mengalir. Makan besar bukan sekadar menyantap hidangan, melainkan ruang dialog keluarga. Cerita tentang perjalanan setahun terakhir dibagikan, harapan tahun mendatang dipanjatkan bersama.
2. Kuliner Sarat Makna dan Doa
Dalam tradisi Tionghoa, makanan tidak hanya dinilai dari rasa, tetapi juga dari makna dan pelafalan katanya. Setiap hidangan menyimpan simbol dan harapan.
-Ikan utuh (Yu) hampir selalu hadir di meja makan. Dalam bahasa Mandarin, “yu” memiliki bunyi serupa dengan kata yang berarti kelebihan atau surplus. Ikan disajikan lengkap dari kepala hingga ekor, melambangkan rezeki yang utuh dari awal hingga akhir tahun. Bahkan sebagian keluarga menyisakan ikan untuk disantap keesokan harinya sebagai simbol kelimpahan yang berlanjut.
-Siu mie atau mie panjang umur melambangkan harapan usia panjang dan rezeki yang tidak terputus. Mie tidak dipotong saat dimasak atau dimakan sebagai simbol kesinambungan hidup.
-Ayam atau bebek utuh juga menjadi sajian penting. Penyajian utuh mencerminkan keutuhan keluarga dan kemakmuran setelah bekerja keras sepanjang tahun.
-kue keranjang (Nian Gao) dan lapis legit turut melengkapi meja makan. Tekstur lengket kue keranjang melambangkan keeratan hubungan keluarga, sementara lapis legit dimaknai sebagai simbol rezeki yang berlapis-lapis.
3. Tradisi Yee Sang, Mengangkat Harapan Setinggi Langit
Di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, terdapat tradisi Yee Sang atau Yu Sheng. Salad ikan mentah dengan aneka sayuran warna-warni ini diaduk bersama-sama menggunakan sumpit.
Sambil mengangkatnya setinggi mungkin, keluarga mengucapkan doa dan harapan baik. Tradisi yang dikenal dengan sebutan Loh Hei ini menjadi momen penuh tawa dan energi positif. Semakin tinggi diangkat, dipercaya semakin tinggi pula keberuntungan yang diraih.
4. Kursi Kosong untuk Leluhur
Dalam sejumlah keluarga tradisional, makan besar juga memiliki dimensi spiritual. Sebuah kursi atau piring tambahan disiapkan sebagai penghormatan bagi leluhur yang telah tiada.
Hal tersebut mencerminkan nilai bakti atau xiao, bahwa ikatan keluarga tidak terputus oleh kematian. Para leluhur diyakini tetap menjadi bagian dari kebahagiaan dan doa keluarga.
5. Angpao, Penutup Penuh Makna
Makan malam Imlek biasanya ditutup dengan pembagian angpao. Amplop merah berisi uang ini diberikan oleh yang sudah menikah kepada anak-anak atau yang belum menikah.
Warna merah melambangkan keberuntungan dan energi positif. Lebih dari sekadar uang, angpao adalah simbol doa, perlindungan, serta harapan agar generasi muda memulai tahun dengan semangat dan keberkahan.
Tuan Yuan Fan bukan hanya tradisi makan bersama. Ia adalah ruang merawat relasi, menyatukan yang terpisah, serta meneguhkan harapan baru. Di atas meja makan, perbedaan dikesampingkan, kasih sayang diprioritaskan, dan masa depan dirayakan bersama.
Bagi masyarakat Tionghoa, makan besar Imlek adalah fondasi emosional untuk melangkah menghadapi satu tahun ke depan dengan hati yang utuh dan keluarga yang tetap menyatu.