Sejarah Kopiah Soekarno: Simbol Nasionalisme yang Melekat di Indonesia
- 27 Feb 2026 08:32 WIB
- Bengkalis
RRI.CO.ID, Bengkalis - Kopiah hitam atau peci bukan sekadar penutup kepala di Indonesia. Di tangan Soekarno, kopiah menjelma menjadi simbol nasionalisme, persatuan, dan identitas bangsa yang baru merdeka.
Dilansir dari Ensiklopedi Nasional Indonesia sebelum masa kemerdekaan, peci atau kopiah telah digunakan luas oleh masyarakat Nusantara, terutama dalam tradisi Melayu dan komunitas Muslim. Namun, penggunaannya masih sebatas atribut budaya dan keagamaan.
Perubahan makna terjadi pada awal abad ke-20 ketika Soekarno, tokoh utama pergerakan kemerdekaan, secara konsisten mengenakan kopiah hitam dalam berbagai forum perjuangan. Ia sengaja memilih kopiah sebagai simbol kedekatan dengan rakyat, sekaligus pembeda dari gaya berpakaian kolonial Belanda yang identik dengan topi ala Barat.
Dalam berbagai pidato politiknya, Soekarno tampil dengan jas putih dan kopiah hitam. Kombinasi ini kemudian menjadi citra kuat seorang pemimpin pribumi yang modern, tetapi tetap berakar pada budaya sendiri.
Citra kopiah semakin melekat ketika Soekarno membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 di Jakarta. Dalam foto-foto bersejarah tersebut, ia berdiri tegap dengan kopiah hitam di kepala. Sejak saat itu, kopiah bukan lagi sekadar busana, melainkan simbol kemerdekaan dan kedaulatan bangsa.
Kopiah yang dikenakan Soekarno bahkan kemudian dikenal luas sebagai “kopiah Soekarno” model peci hitam polos berbentuk tegas yang menjadi inspirasi gaya berpakaian para pejabat negara hingga kini.
Setelah Indonesia merdeka, kopiah hitam semakin diakui sebagai bagian dari identitas nasional. Banyak pemimpin negara, pejabat, hingga pelajar mengenakan peci dalam upacara resmi. Bahkan hingga masa pemerintahan Soeharto, tradisi mengenakan peci tetap dipertahankan sebagai simbol kenegaraan.
Kini, kopiah atau peci tidak hanya dipakai dalam acara formal kenegaraan, tetapi juga dalam kegiatan keagamaan, budaya, dan pendidikan. Ia menjadi lambang kesederhanaan, kebanggaan nasional, sekaligus warisan sejarah perjuangan.
Sejarah kopiah Soekarno menunjukkan bahwa simbol sederhana dapat memiliki makna besar. Dari penutup kepala rakyat biasa, kopiah berubah menjadi ikon perlawanan terhadap penjajahan dan identitas bangsa yang merdeka.
Di balik bentuknya yang sederhana, tersimpan pesan kuat: nasionalisme tidak harus megah, tetapi harus membumi dan menyatu dengan rakyat.