Formalin Berbahaya, Kenali Dampak dan Cara Pencegahannya

  • 10 Feb 2026 18:43 WIB
  •  Bengkalis

RRI.CO.ID, Bengkalis - Formalin kerap dimanfaatkan sebagai bahan pengawet dan pembunuh kuman, terutama pada produk industri, laboratorium, hingga pembersih rumah tangga. Namun, penggunaan formalin harus dilakukan secara sangat hati-hati. 

Paparan zat kimia ini, baik dalam jangka pendek maupun panjang, berisiko menimbulkan gangguan kesehatan serius. Formalin merupakan senyawa kimia berbentuk gas yang tidak berwarna, mudah menguap, dan mudah terbakar. 

Zat ini tergolong beracun serta dapat menyebar dengan cepat melalui udara. Paparan formalin dalam waktu singkat dapat menimbulkan iritasi pada kulit, mata, dan saluran pernapasan.

Dikutip dari alodokter, risiko kesehatan akan meningkat apabila formalin masuk ke dalam tubuh melalui makanan. Konsumsi makanan yang mengandung formalin dapat menyebabkan iritasi saluran cerna, seperti mual, muntah, nyeri perut, hingga kerusakan organ jika terjadi secara berulang. Bahkan, formalin telah diklasifikasikan sebagai zat karsinogen, yaitu senyawa yang berpotensi memicu kanker apabila terpapar dalam jangka panjang.

Formalin banyak digunakan pada bahan bangunan dan perabot rumah tangga berbahan kayu olahan, seperti lemari, meja, tempat tidur, serta dinding rumah. Karena itu, rumah yang baru dibangun atau direnovasi berpotensi memiliki kadar formalin lebih tinggi di udara dalam ruangan.

Selain itu, formalin juga dapat ditemukan pada produk pembersih rumah tangga, pestisida, bahan pengawet sampel di laboratorium, asap rokok, serta emisi dari kompor gas. Paparan dari berbagai sumber tersebut, jika terjadi terus-menerus, dapat berdampak buruk bagi kesehatan.

Paparan formalin dalam jumlah tinggi dapat menyebabkan sakit kepala, batuk, iritasi kulit, dan mata perih. Sementara itu, paparan jangka panjang berisiko menimbulkan gangguan kesehatan yang lebih serius, antara lain:

Formalin yang terhirup dapat mengiritasi saluran pernapasan dan memperparah kondisi penderita asma, bronkitis, atau penyakit pernapasan kronis lainnya. Gejala yang bisa muncul meliputi batuk berkepanjangan, radang tenggorokan, mimisan, hingga sesak napas.

Formalin diketahui berkaitan dengan peningkatan risiko beberapa jenis kanker, seperti kanker paru-paru, kanker tenggorokan, kanker nasofaring, dan leukemia. Meski belum ada batas pasti kadar formalin yang langsung memicu kanker, risiko akan meningkat seiring tingginya paparan. Anak-anak dan lanjut usia termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap dampak zat ini.

Paparan formalin memang sulit dihindari sepenuhnya, namun dapat diminimalkan dengan langkah-langkah berikut:

- Menjaga sirkulasi udara rumah dengan membuka jendela dan ventilasi secara rutin.

- Mengatur suhu ruangan agar tetap sejuk dan nyaman, termasuk dengan penggunaan pendingin ruangan bila perlu.

- Menghindari merokok di dalam rumah karena asap rokok mengandung formalin.

- Menggunakan produk pembersih atau insektisida di ruang terbuka dan sesuai petunjuk.

- Mengangin-anginkan perabot kayu baru selama beberapa hari sebelum digunakan di dalam rumah.

- Mencuci tangan dan membersihkan tubuh setelah menggunakan bahan kimia rumah tangga.

- Mencuci bahan makanan dengan bersih dan memasaknya hingga matang.

- Menghindari daging yang bertekstur terlalu keras atau beraroma tidak wajar karena berpotensi mengandung formalin.

Dengan meningkatkan kewaspadaan dan menerapkan langkah pencegahan tersebut, risiko gangguan kesehatan akibat paparan formalin dapat ditekan. Edukasi dan kebiasaan hidup bersih menjadi kunci utama untuk melindungi diri dan keluarga dari bahaya zat kimia berbahaya ini.

Rekomendasi Berita