Turnamen Gasing Bantan Sari Diarahkan Jadi Ikon Daerah

  • 23 Jan 2026 16:01 WIB
  •  Bengkalis

RRI.CO.ID, Bengkalis - Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Bengkalis yang diwakili Kepala Bidang Pariwisata, Alwizar, menerima audiensi Pemerintah Desa Bantan Sari bersama Persatuan Gasing Seluruh Indonesia (PERGASI) Desa Bantan Sari, Kamis 22 Januari 2026, di Kantor Disparbudpora Kabupaten Bengkalis.

Audiensi tersebut bertujuan menjalin silaturahmi sekaligus berkoordinasi terkait rencana pengembangan Event Turnamen Gasing Desa Bantan Sari agar dapat ditingkatkan menjadi event berskala daerah, bahkan ke depan diharapkan menjadi ikon kearifan lokal Kabupaten Bengkalis.

Rombongan Pemerintah Desa Bantan Sari yang hadir di antaranya Sekretaris Desa Hendro Mulyono, Ketua BPD Desa Bantan Sari, serta Ketua BUMDES Desa Bantan Sari yang juga merupakan anggota PERGASI. Kehadiran PERGASI menegaskan komitmen masyarakat desa dalam melestarikan olahraga tradisional gasing sebagai warisan budaya daerah.

Kabid Pariwisata Disparbudpora Bengkalis, Alwizar, menyambut baik inisiatif tersebut dan menilai olahraga tradisional gasing memiliki nilai budaya tinggi serta potensi besar sebagai daya tarik pariwisata berbasis kearifan lokal.

“Pengembangan event Turnamen Gasing di Desa Bantan Sari merupakan langkah strategis untuk melestarikan olahraga tradisional sekaligus memperkuat pariwisata daerah. Disparbudpora siap mendukung pembinaan, pendampingan, serta pengemasan event agar berkelanjutan. Apalagi turnamen gasing piring awal 2026 lalu mampu menarik hampir 500 peserta, ini tentu berdampak pada ekonomi masyarakat dan peningkatan PAD,” ujar Alwizar.

Sementara itu, Sekretaris Desa Bantan Sari, Hendro Mulyono, berharap sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Bengkalis dapat mendorong Turnamen Gasing naik status menjadi event daerah.

“Kami berharap turnamen ini memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” katanya.

Dukungan serupa juga disampaikan Ketua BPD dan Ketua BUMDES yang menilai Turnamen Gasing sebagai identitas desa sekaligus peluang pengembangan ekonomi berbasis budaya.

Rekomendasi Berita