Pinang dan Tradisi Mengunyahnya di tengah Masyarakat Papua
- 26 Feb 2026 13:39 WIB
- Biak
RRI.CO.ID, Biak - Masyarakat Papua dikenal memiliki warisan budaya yang sangat kaya dan beragam. Dalam setiap unsur kebudayaan, tersimpan tradisi yang diwariskan turun-temurun dari generasi ke generasi. Mengutip indonesiakaya.com, salah satu tradisi yang hingga kini tetap hidup dan melekat kuat dalam keseharian masyarakat adalah kebiasaan mengunyah buah pinang—dilakukan oleh anak-anak, orang dewasa, hingga para lanjut usia.
Tradisi mengunyah pinang di Papua telah berlangsung sejak ratusan bahkan ribuan tahun silam. Pada masa prasejarah, kebiasaan ini awalnya berkembang di wilayah pesisir, sekitar 3.000 tahun lalu. Buah pinang diperkenalkan oleh kelompok manusia berbahasa Austronesia yang datang dan menetap di kawasan pantai serta pulau-pulau kecil Papua.
Seiring waktu, tradisi ini tidak hanya bertahan di pesisir, tetapi juga menyebar hingga wilayah pegunungan seperti Wamena dan Enarotali, meskipun pohon pinang tidak tumbuh di dataran tinggi. Perkembangan transportasi darat dan udara mempermudah distribusi pinang ke berbagai daerah. Selain itu, masyarakat pesisir yang bekerja di kota-kota besar seperti Jayapura kerap membawa pinang sebagai buah tangan saat kembali dari kampung halaman.
Bagi masyarakat Papua, mengunyah pinang bukan sekadar kebiasaan, melainkan bagian dari gaya hidup. Sensasi rasa yang unik—kadang perpaduan manis dan sedikit asam dengan kesan segar—menjadi daya tarik tersendiri. Bahkan, sebagian orang meyakini tidak ada rasa lain yang benar-benar menandingi kenikmatan pinang.
Selain dinikmati sebagai “pencuci mulut”, pinang juga dipercaya memberi manfaat bagi kesehatan gigi dan gusi. Tidak sedikit orang tua berusia lanjut yang masih memiliki gigi kuat dan utuh, yang diyakini berkaitan dengan kebiasaan ini. Lebih dari itu, mengunyah pinang juga menjadi simbol kebersamaan dan persaudaraan. Dalam berbagai acara adat, seperti pernikahan maupun upacara kematian, pinang hampir selalu hadir sebagai suguhan wajib.
Biasanya, buah pinang dikonsumsi bersama tepung kapur yang diolah dari cangkang kerang untuk mengurangi rasa pahit dan asam getahnya. Batang sirih turut dikunyah sebagai pelengkap, membantu menetralkan rasa getir. Kombinasi ketiganya menghasilkan cairan kental berwarna merah yang kemudian diludahkan ke tanah. Secara tradisional, sisa kunyahan ini dipercaya dapat menyuburkan tanah karena bersifat organik.
Ada pula tahapan khas dalam proses mengunyah pinang. Buah dikupas menggunakan gigi, lalu isinya dikunyah hingga hancur. Pinang yang berkualitas biasanya menghasilkan cairan kental, sedangkan yang kurang baik cenderung lebih encer. Setelah itu, sirih yang telah dicelupkan ke bubuk kapur dikunyah bersama hingga tercipta campuran yang sempurna.
Berbeda dengan beberapa daerah lain di Indonesia yang umumnya mengunyah pinang kering dan dilakukan oleh kalangan orang tua, di Papua tradisi ini justru dimulai sejak usia dini. Anak-anak sekitar tujuh tahun sudah diperkenalkan dengan kebiasaan ini, dan tradisi tersebut terus dijalani hingga usia lanjut. Di berbagai sudut Papua—baik kota besar maupun kampung-kampung kecil—pemandangan orang mengunyah pinang menjadi hal yang lazim ditemui.
Perbedaan lainnya terletak pada jenis pinang yang dikonsumsi. Masyarakat Papua cenderung menyukai pinang yang masih mentah, sementara di daerah lain lebih umum menggunakan pinang kering atau hanya bijinya saja. Kini, pinang dan pelengkapnya mudah ditemukan di pinggir jalan kota-kota di Papua. Satu paket berisi pinang, kapur, dan batang sirih biasanya dijual sekitar Rp10.000 per plastik, berisi 10 hingga 15 buah tergantung ukuran. Bagi pengunyah aktif, satu paket bisa habis dalam sekali waktu, bahkan dalam sehari seseorang dapat menghabiskan lima hingga sepuluh paket.
Tradisi mengunyah pinang bukan sekadar kebiasaan, melainkan identitas budaya yang hidup dan terus diwariskan. Saat berkunjung ke Tanah Papua, tradisi ini menjadi salah satu pengalaman unik yang patut untuk dikenali lebih dekat.