Keindahan Tari Katrili, Tarian Pergaulan Tradisional Minahasa
- 12 Mar 2026 13:08 WIB
- Biak
RRI.CO.ID, Biak - Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan yang memiliki keragaman suku bangsa yang sangat besar. Salah satu di antaranya adalah suku Minahasa, yaitu kelompok masyarakat asli yang berasal dari Semenanjung Minahasa di Provinsi Sulawesi Utara. Masyarakat Minahasa kini tersebar di berbagai wilayah seperti Kabupaten Minahasa, Minahasa Selatan, Minahasa Tenggara, Minahasa Utara, serta kota-kota seperti Manado, Bitung, dan Tomohon. Keberadaan mereka menjadi bagian penting dari kekayaan budaya di wilayah tersebut.
Pada masa lampau, wilayah Minahasa dikenal dengan nama Malesung. Melansir indonesiakaya.com, istilah Minahasa sendiri berasal dari kata “minesa”, “mahasa”, atau “minahasa” yang berarti “menjadi satu”. Nama ini mencerminkan tradisi musyawarah yang dilakukan masyarakat Minahasa untuk menyelesaikan konflik, menentukan batas wilayah antar kelompok, serta membahas persatuan dalam menghadapi ancaman dari luar. Dalam catatan sejarah, nama Minahasa pertama kali muncul dalam laporan Residen J.D. Schierstein pada 8 Oktober 1789.
Sebagai suku bangsa terbesar di Sulawesi Utara, masyarakat Minahasa sering kali juga disebut sebagai orang Manado. Seperti suku-suku lain di Indonesia, mereka memiliki berbagai bentuk kebudayaan yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu unsur budaya yang sangat melekat dalam kehidupan masyarakat Minahasa adalah seni tari. Sejak dahulu, seni tari menjadi bagian penting dalam tradisi masyarakat, bahkan dipercaya berkaitan dengan sosok Dewi Penari bernama Ruwintuwu yang dikaitkan pula dengan Dewi Kesuburan.
Dari tradisi tersebut lahirlah berbagai tarian khas Minahasa, seperti Tari Maengket, Tari Kabasaran, Tari Mesalai, dan Tari Katrili. Tari Katrili sendiri merupakan tarian yang dibawakan secara berpasangan oleh laki-laki dan perempuan, biasanya oleh kalangan muda-mudi. Tarian ini lahir dari proses akulturasi antara budaya lokal Minahasa dengan budaya Eropa yang dibawa oleh bangsa Portugis dan Spanyol ketika mereka datang ke Sulawesi Utara untuk berdagang.
Konon, pada masa kedatangan bangsa Eropa tersebut, mereka sering mengadakan pesta meriah sebagai bentuk perayaan atas keberhasilan perdagangan hasil bumi dari Minahasa. Dalam pesta tersebut ditampilkan tarian berpasangan yang kemudian turut diikuti oleh masyarakat setempat. Seiring waktu, kebiasaan menari ini terus berkembang di kalangan masyarakat Minahasa, meskipun bangsa Portugis dan Spanyol sudah tidak lagi berada di wilayah tersebut. Tarian itu kemudian dipadukan dengan unsur budaya lokal, baik dari segi gerakan, formasi, musik, maupun kostum, hingga akhirnya dikenal sebagai Tari Katrili.
Dalam perkembangannya, Tari Katrili biasanya dimainkan oleh empat hingga delapan pasangan penari dengan pola gerakan yang mengikuti irama waltz dan gallop. Seorang penari bertugas sebagai pemimpin atau katapel yang memberikan aba-aba gerakan kepada para penari. Penari perempuan mengenakan gaun lengkap dengan perhiasan, sementara penari pria menggunakan jas dan topi yang mencerminkan pengaruh budaya Eropa. Kini, Tari Katrili sering ditampilkan dalam berbagai acara seperti pesta budaya dan penyambutan tamu kehormatan, sekaligus menjadi simbol keterbukaan dan keramahan masyarakat Minahasa.