Pesona Gelung Pingkan, Simbol Keanggunan Wanita Manado

  • 14 Mar 2026 13:13 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID, Biak - Gelung Pingkan merupakan salah satu warisan budaya dari Minahasa yang mencerminkan keanggunan dan kecantikan perempuan Manado sejak usia muda hingga dewasa. Melansir indonesiakaya.com, tatanan rambut tradisional ini tidak hanya berfungsi sebagai hiasan, tetapi juga mengandung makna budaya yang kuat. Kehadiran bunga mawar hidup sebagai pelengkapnya menjadikan gelung ini memiliki nilai simbolis, terutama sebagai penanda status sosial dan pernikahan dalam masyarakat Minahasa.

Sejak kecil, anak perempuan di Manado umumnya memiliki rambut panjang. Namun rambut tersebut tidak dibiarkan terurai begitu saja. Dalam keseharian, rambut biasanya dikepang agar tetap rapi. Sementara itu, untuk acara-acara penting atau kegiatan adat, rambut tidak cukup hanya dikepang, tetapi ditata menjadi sanggul. Salah satu bentuk sanggul yang paling dikenal dalam tradisi Minahasa adalah Gelung Pingkan.

Nama “Pingkan” sendiri dipercaya berasal dari seorang gadis cantik dari Tanah Wangko di Minahasa yang hidup pada akhir abad ke-17. Ia bernama Pingkan Mogoghunoi, keturunan dari Walian Ambowailan. Konon, rambutnya sangat panjang hingga menyentuh lantai dan selalu ditata dengan kepangan. Pada acara tertentu, ia membentuk rambutnya menjadi konde yang dikenal dalam bahasa lokal sebagai taldimbu kun atau wulu’kun. Keindahan tatanan rambutnya kemudian menginspirasi masyarakat hingga namanya diabadikan sebagai nama sanggul tradisional Minahasa.

Proses pembuatan Gelung Pingkan dimulai dengan menyasak rambut hingga tampak mengembang dan disesuaikan dengan bentuk wajah serta tubuh pemakainya. Setelah itu, rambut disisir ke belakang hingga ke bagian tengkuk. Rambut kemudian dibagi menjadi dua bagian dan diikat. Jika rambut panjang, dapat dikepang terlebih dahulu, sedangkan rambut yang lebih pendek biasanya ditambahkan kepangan tambahan.

Selanjutnya, kepangan tersebut diputar membentuk pusaran di kedua sisi kepala dan dikencangkan menggunakan harnal serta jepit rambut. Setelah tatanan terlihat rapi, rambut biasanya disemprot dengan hair spray agar tetap kokoh. Sebagai pelengkap, bunga mawar hidup disematkan pada bagian samping kepala sehingga menambah kesan anggun dan elegan pada keseluruhan penampilan.

Bunga mawar yang digunakan dalam Gelung Pingkan juga memiliki makna tersendiri. Penempatannya menunjukkan status pernikahan perempuan yang mengenakannya. Mawar merah yang disematkan di belakang telinga sebelah kiri menandakan bahwa perempuan tersebut masih lajang. Sebaliknya, jika bunga mawar berada di sebelah kanan, hal itu menandakan bahwa ia sudah menikah. Dengan demikian, Gelung Pingkan bukan sekadar hiasan rambut, tetapi juga menjadi simbol identitas dan nilai budaya perempuan Minahasa.

Rekomendasi Berita