Oversharing: Semua Hal tidak Perlu di Umbar
- 09 Mar 2026 06:57 WIB
- Biak
RRI.CO.ID, Biak - Di zaman digital seperti sekarang, tombol unggah kadang terasa lebih cepat daripada tombol pikir. Begitu sebuah pengalaman terjadi entah itu makan enak, perjalanan seru, keberhasilan kerja, atau sekadar curhat soal hidup refleks pertama kita sering kali adalah: "Ini kayaknya seru kalau dibagikan." Lalu jari bergerak, foto diunggah, status ditulis, dan dalam hitungan detik cerita kita sudah berlayar di lautan media sosial.
Namun pertanyaannya, sebelum mengunggah sesuatu di platform digital, adakah pagar-pagar yang memfilter mana yang pantas dibagikan dan mana yang sebaiknya disimpan saja?
Pada dasarnya, manusia memang makhluk yang suka berbagi cerita. Dalam ilmu psikologi, berbagi pengalaman adalah bagian dari kebutuhan sosial manusia. Manusia pada dasrnya ingin didengar, dimengerti, dan terkoneksi dengan orang lain. Namun masalah muncul ketika berbagi tidak lagi sekadar berbagi, melainkan berubah menjadi ajang pembuktian diri.
Media sosial memang sering menjadi panggung kecil tempat menampilkan versi terbaik dari diri sendiri. Foto liburan yang indah, prestasi kerja, kehidupan keluarga yang harmonis. Tidak ada yang salah dengan itu. Tetapi ketika cerita tersebut disertai dengan nada merendahkan orang lain, pesan yang sampai justru berbeda.
Jika sebuah pengalaman bisa memberi inspirasi, pengetahuan, atau motivasi, tentu tidak ada salahnya dibagikan. Namun jika cerita itu hanya berisi keluhan panjang tanpa arah, atau bahkan menyerang orang lain, mungkin lebih baik disimpan dulu.
Sebenarnya media sosial bukan ukuran nilai sebuah pengalaman. Ia hanya ruang digital tempat cerita lewat sebentar, lalu tenggelam oleh cerita berikutnya. Yang membuat sebuah pengalaman berharga bukanlah jumlah respons yang diterima, tetapi makna yang kita rasakan.
Pada akhirnya, media sosial hanyalah alat. Ia bisa menjadi ruang inspirasi, tetapi juga bisa menjadi ruang kebisingan. Semua tergantung bagaimana kita menggunakannya. Berbagi cerita tentu tidak salah. Bahkan sering kali kisah sederhana bisa memberi semangat bagi orang lain. Namun bijak dalam memilih apa yang dibagikan adalah keterampilan penting di era digital.