Klappertaart: Perpaduan Warisan Belanda dan Cita Rasa Manado
- 27 Feb 2026 11:04 WIB
- Biak
RRI.CO.ID, Biak - Selain pengaruh etnis Tionghoa dari daratan Cina, kontribusi bangsa Eropa juga memiliki peran besar dalam membentuk ragam kuliner Indonesia. Jejak tersebut berkaitan erat dengan masa kolonialisme yang berlangsung sejak abad ke-16 hingga awal abad ke-20. Melansir indonesiakaya.com, di balik sejarah panjang yang menyisakan luka dan catatan kelam, terdapat pula warisan budaya yang hingga kini masih dapat dirasakan, salah satunya melalui kuliner.
Salah satu bukti akulturasi itu hadir dalam klappertaart khas Manado. Kue bertekstur lembut dengan perpaduan rasa manis dan gurih ini nikmat disantap dalam kondisi dingin. Dipadukan dengan secangkir kopi hitam, klappertaart mampu menghadirkan pengalaman rasa yang hangat dan berkesan.
Masyarakat Manado dikenal terbuka terhadap perjumpaan budaya. Bahkan, dalam Laporan Indeks Kota Toleran (IKT) 2020, Manado menempati posisi ketiga sebagai kota dengan tingkat toleransi antarumat beragama terbaik di Indonesia. Semangat keterbukaan itu tercermin pula dalam khazanah kulinernya.
Nama klappertaart sendiri berasal dari bahasa Belanda: klapper yang berarti kelapa dan taart yang berarti kue. Secara harfiah, klappertaart adalah kue kelapa—namun lebih dari itu, ia merupakan simbol pertemuan dua budaya dalam satu sajian yang menggugah selera.
Menurut jurnal Journal of Ethnic Foods terbitan Universitas Surya tahun 2018 berjudul Klappertaart: An Indonesian-Dutch Influenced Traditional Food, kue ini terinspirasi dari kreativitas perempuan Belanda yang tinggal di Manado pada masa kolonial. Melimpahnya kelapa di tanah Minahasa mendorong mereka memadukan bahan lokal tersebut dengan teknik dan resep tart khas Eropa.
Pada awal kemunculannya, klappertaart termasuk hidangan eksklusif yang hanya disajikan di kalangan menengah atas Belanda pada acara tertentu. Bahan-bahannya tergolong mahal dan sulit diperoleh saat itu, seperti susu, tepung terigu, kismis, rum, kenari, dan kuning telur—dipadukan dengan daging kelapa muda yang lembut sebagai bahan utama.
Ketersediaan bahan menjadi tantangan tersendiri di Manado. Produk susu, misalnya, harus didatangkan dari kota-kota lain di Jawa seperti Bandung, Malang, Boyolali, Pasuruan, dan Semarang. Meski demikian, semangat untuk menghadirkan sajian istimewa ini tetap kuat, hingga akhirnya klappertaart menjadi bagian dari tradisi kuliner setempat.
Seiring waktu, resep klappertaart menyebar dari dapur keluarga Belanda ke masyarakat lokal. Penyebarannya terjadi melalui interaksi sehari-hari—baik lewat pekerja rumah tangga pribumi yang bekerja di keluarga Belanda maupun melalui buku resep yang ditulis oleh perempuan Belanda di Manado.
Dalam perkembangannya, klappertaart dapat diolah dengan dua teknik: dipanggang atau dikukus. Versi panggang menghasilkan tekstur lebih padat dan biasanya disajikan dalam loyang besar agar mudah dipotong. Sementara versi kukus memiliki tekstur lebih lembut dan umumnya disajikan dalam wadah kecil sehingga bisa langsung dinikmati dengan sendok.
Kini, klappertaart bukan lagi kudapan eksklusif, melainkan bagian dari identitas kuliner Manado yang merepresentasikan akulturasi budaya. Perpaduan bahan lokal dan sentuhan Eropa itu menjadikan klappertaart bukan sekadar kue, melainkan cerita sejarah dalam setiap suapannya.
Tertarik mencoba membuatnya sendiri di rumah?