Saksi Sejarah Perang Dunia II: Monumen MacArthur di Jayapura, Papua
- 20 Feb 2026 13:35 WIB
- Biak
RRI.CO.ID, Biak - Sebagai ibu kota Provinsi Papua, Jayapura memiliki banyak destinasi wisata menarik. Namun, ada satu tempat yang kerap disebut warga sebagai lokasi wajib kunjung, khususnya oleh masyarakat Distrik Sentani. Konon, belum lengkap rasanya datang ke Jayapura jika belum singgah ke “Tugu MacArthur”.
Melansir indonesiakaya.com, tugu ini menjadi penanda penting sejarah Perang Dunia II di tanah Papua. Monumen tersebut dibangun untuk mengenang kehadiran pasukan Sekutu di kawasan Pasifik pada tahun 1944. Dari wilayah Sentani inilah strategi besar dilancarkan untuk merebut kembali wilayah yang saat itu dikuasai Jepang, termasuk Filipina.
Nama tugu ini diambil dari Douglas MacArthur, panglima besar pasukan Sekutu di kawasan Pasifik Barat Daya. Ia mendirikan Markas Besar Umum di perbukitan Sentani, tepat di lokasi yang kini berdiri Tugu MacArthur. Tempat ini menjadi saksi bisu perencanaan operasi militer penting dalam sejarah dunia.
Namun daya tarik Tugu MacArthur bukan hanya pada nilai historisnya. Dari puncak bukit, pengunjung dapat menikmati panorama Distrik Sentani yang memukau. Hamparan Danau Sentani, deretan pegunungan, Bandara Sentani, hingga pulau-pulau kecil di tengah danau berpadu menjadi pemandangan yang menawan. Lanskap ini menjadikan lokasi tersebut bukan sekadar situs sejarah, tetapi juga tempat favorit menikmati keindahan alam.
Waktu terbaik berkunjung adalah sore hari menjelang matahari terbenam. Saat cuaca cerah, siluet matahari yang perlahan tenggelam di balik pegunungan menciptakan suasana yang begitu tenang dan berkesan.
Untuk mencapai lokasi, pengunjung menempuh perjalanan sekitar 15 menit dari Bandara Sentani dengan kendaraan bermotor. Jalan menuju bukit cukup menanjak dan berliku, serta melewati kawasan militer karena berada satu area dengan kompleks Resimen Induk Kodam Cenderawasih. Meski begitu, perjalanan tersebut sebanding dengan pengalaman sejarah dan panorama yang ditawarkan.
Tugu MacArthur terbuka untuk umum tanpa tiket masuk. Pengunjung hanya diharapkan menjaga kebersihan dan kelestarian area, serta dapat memberikan sumbangan sukarela untuk membantu perawatan situs bersejarah ini.