Masjid Tjia Khang Hoo, Simbol Toleransi dalam Balutan Arsitektur Tionghoa-Betawi
- 02 Mar 2026 06:44 WIB
- Biak
RRI.CO.ID, Biak – Di tengah padatnya kawasan Jakarta Timur, berdiri sebuah masjid dengan tampilan berbeda dari kebanyakan rumah ibadah pada umumnya. Atap melengkung khas Tionghoa berpadu dengan sentuhan ornamen Betawi, menjadikan Masjid Tjia Khang Hoo bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga simbol harmoni budaya dan toleransi.
Masjid ini dikenal dengan arsitekturnya yang kental nuansa Tionghoa. Warna merah dan hijau mendominasi beberapa bagian bangunan. Bentuk atapnya menyerupai kelenteng, namun fungsinya tetap sebagai masjid yang terbuka untuk seluruh umat Islam.
Nama Tjia Khang Hoo sendiri diambil dari seorang tokoh Muslim keturunan Tionghoa yang berperan dalam perkembangan komunitas Muslim Tionghoa di Indonesia. Kehadiran masjid ini menjadi penanda bahwa Islam dan budaya lokal dapat berjalan beriringan tanpa harus saling meniadakan.
- Perpaduan Identitas dan Sejarah
Masjid Tjia Khang Hoo dibangun sebagai bagian dari upaya memperkenalkan identitas Muslim Tionghoa di Indonesia. Arsitekturnya tidak menghilangkan unsur Islam, melainkan memperkaya tampilan visualnya dengan sentuhan budaya.
Interior masjid tetap mengusung fungsi utama sebagai tempat ibadah. Tidak ada patung atau simbol keagamaan lain yang bertentangan dengan ajaran Islam. Ornamen yang digunakan lebih menonjolkan estetika dan nilai sejarah.
Keberadaan masjid ini juga menjadi pengingat perjalanan panjang akulturasi budaya di Indonesia. Sejak berabad-abad lalu, interaksi antara masyarakat Tionghoa, Betawi, dan kelompok etnis lain telah membentuk wajah sosial Jakarta hari ini.
- Pesan Toleransi di Ruang Publik
Di tengah isu intoleransi yang sesekali muncul di ruang publik, Masjid Tjia Khang Hoo hadir sebagai contoh nyata bahwa perbedaan dapat menjadi kekuatan. Bangunan ini kerap menarik perhatian pengunjung, baik untuk beribadah maupun sekadar melihat arsitekturnya.
Fenomena ini sejalan dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap wisata religi dan wisata budaya. Banyak orang kini tidak hanya mencari tempat ibadah, tetapi juga ruang yang menyimpan nilai sejarah dan pesan kebinekaan.
Masjid ini membuktikan bahwa identitas budaya tidak harus dihapus demi keseragaman. Justru melalui keberagaman, pesan persatuan menjadi lebih kuat dan terasa nyata.
- Refleksi Kebinekaan
Masjid Tjia Khang Hoo menjadi gambaran kecil wajah Indonesia. Perbedaan latar belakang budaya tidak menghalangi masyarakat untuk hidup berdampingan. Sebaliknya, perbedaan itu memperkaya warna kehidupan berbangsa.
Di tengah dinamika sosial yang terus berkembang, kehadiran masjid ini mengingatkan bahwa toleransi bukan sekadar slogan. Ia bisa diwujudkan dalam ruang nyata, dalam arsitektur, dan dalam kehidupan sehari-hari.
Masjid Tjia Khang Hoo pun tak hanya berdiri sebagai bangunan fisik, tetapi juga sebagai pesan bahwa harmoni tetap mungkin dijaga di tengah keberagaman.