Jangan Buang Kuning Telur! Ini Rahasia Nutrisi di Dalamnya

  • 04 Mar 2026 09:19 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor - Pandangan lama yang menyebut kuning telur sebagai penyebab utama kolesterol tinggi kini mulai ditinggalkan. Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat dan perlu diluruskan.

Dilansir dari website www.nationalgeographic.com bahwa Sejak dekade 1960-an, pedoman gizi di Amerika Serikat membatasi asupan kolesterol harian hingga 300 miligram. Kebijakan itu didasari keyakinan bahwa kolesterol dari makanan secara langsung meningkatkan kadar kolesterol dalam darah dan risiko penyakit jantung.

Namun, rekomendasi pembatasan tersebut dihapus pada 2016 setelah bukti ilmiah tidak menemukan hubungan kuat antara kolesterol makanan dan penyakit jantung. Studi-studi mutakhir justru menegaskan bahwa lemak jenuh memiliki peran lebih besar dalam meningkatkan kadar kolesterol jahat atau LDL.

Sebuah penelitian acak dengan metode silang yang terbit di The American Journal of Clinical Nutrition pada 2025 memperkuat temuan tersebut. Hasilnya menunjukkan konsumsi dua butir telur per hari dalam pola makan rendah lemak jenuh selama lima pekan justru menurunkan kadar LDL, berbeda dengan pola makan tinggi lemak jenuh yang tidak memberikan efek serupa.

Para ahli menjelaskan bahwa sebagian besar kolesterol dalam darah diproduksi oleh hati, bukan semata-mata berasal dari makanan. Faktor genetik turut menentukan seberapa banyak kolesterol diproduksi dan seberapa efisien tubuh membersihkannya dari aliran darah.

Menurut David L. Katz, spesialis kedokteran preventif dan mantan Presiden American College of Lifestyle Medicine, respons tubuh terhadap kolesterol makanan bisa berbeda pada setiap individu. Ada orang yang sangat sensitif terhadap asupan kolesterol, namun ada pula yang tidak menunjukkan perubahan signifikan.

Sementara itu, ahli gizi Keith Ayoob menegaskan bahwa pemicu utama peningkatan kolesterol darah adalah lemak jenuh, bukan kolesterol dalam telur. Lemak jenuh dapat menghambat kemampuan hati membuang LDL serta meningkatkan produksi partikel kolesterol yang beredar dalam darah.

Karena itu, pedoman gizi 2025-2030 di Amerika Serikat tetap menyarankan pembatasan lemak jenuh hingga maksimal 10 persen dari total kalori harian. Artinya, konsumsi mentega, daging merah, produk susu penuh lemak, keju, serta minyak kelapa tetap perlu dikendalikan.

Telur sendiri merupakan sumber gizi yang sangat kaya, terutama pada bagian kuningnya. dalam satu butir telur besar terkandung protein, vitamin A, vitamin D, vitamin E, vitamin K, folat, kolin, hingga antioksidan lutein dan zeaxantin yang baik bagi kesehatan mata dan otak.

Agar tetap sehat, para pakar menyarankan memasak telur dengan minyak zaitun atau minyak nabati, bukan mentega. Mengombinasikan telur dengan sayuran, kacang-kacangan, atau roti gandum utuh juga membantu menjaga kadar kolesterol tetap terkendali berkat kandungan seratnya.

Dengan pemahaman ilmiah yang lebih mutakhir, telur kini kemblai dpandang sebagai bagian dari pola makan seimbang. Selain bergizi tinggi, telur juga terjangkau dan mudah diolah, sehingga layak menjadi pilihan menu harian yang sehat.

Rekomendasi Berita