Potensi Besar Jeroan bagi Kesehatan dan Gizi
- 05 Mar 2026 09:16 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor: Tren konsumsi jeroan atau offal kembali mendapat perhatian setelah sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa bagian tubuh hewan selain daging otot justru menyimpan kepadatan gizi yang tinggi. Temuan ini memicu diskusi baru mengenai potensi jeroan sebagai sumber nutrisi yang selama ini kurang dimanfaatkan.
Dilansir dari website www.nationalgeographic.com bahwa Jeroan telah lama menjadi bagian penting dari tradisi kuliner. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, konsumsi jeroan cenderung menurun, terutama di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, seiring meningkatnya preferensi terhadap daging tanpa lemak dengan rasa yang lebih netral.
Para ahli menilai perubahan selera ini turut dipengaruhi oleh sistem produksi pangan modern yang menghadirkan daging dalam kemasan higienis dan seragam. Akibatnya, bentuk, tekstur, dan aroma khas organ seperti hati, ginjal, atau otak kerap dianggap kurang menarik oleh sebagian konsumen.
Padahal, jika ditinjau dari aspek keberlanjutan, pengabaian jeroan berkontribusi pada pemborosan pangan. Sebagian besar hewan ternak terdiri atas 12 hingga 44 persen bagian non-otot, dan tidak sedikit yang akhirnya diolah menjadi pakan ternak atau limbah industri alih-alih dikonsumsi langsung.
Riset ilmiah yang dihimpun dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa jeroan mengandung vitamin dan mineral dalam konsentrasi lebih tinggi dibandingkan daging biasa. Meski kadar proteinnya tidak selalu setinggi daging otot, kandungan mikronutriennya menjadikan organ hewan sebagai salah satu pangan paling padat gizi.
Hati, misalnya, dikenal kaya akan zat besi, vitamin A, vitamin B kompleks, serta kolina yang berperan penting dalam metabolisme dan fungsi otak. Kekurangan zat besi dan vitamin B6 masih cukup umum terjadi, bahkan di negara dengan akses pangan melimpah, sehingga konsumsi hati dinilai dapat membantu menutup celah kebutuhan tersebut.
Organ lain seperti ginjal, jantung, dan limpa juga menyimpan kandungan niasin, vitamin B2, serta mineral penting dalam jumlah signifikan. Beberapa peneliti bahkan menyebut hati dan limpa sebagai "multivitamin alami" karena kepadatan nutrisinya.
Sementara itu, kelompok yang kerap disebut sebagai "jeroan putih" seperti otak, paru-paru, dan usus memang belum banyak diteliti secara mendalam. Namun, sejumlah temuan menunjukkan adanya kandungan vitamin B12, vitamin C, serta asam lemak tak jenuh seperti omega-3 yang bermanfaat bagi kesehatan saraf dan jantung.
Kendati demikian, para pakar mengingatkan bahwa tidak semua orang dianjurkan mengonsumsi jeroan dalam jumlah besar. Ibu hamil, khususnya pada trimester pertama, disarankan membatasi asupan hati karena kadar vitamin A yang sangat tinggi berpotensi menimbulkan risiko bagi janin.
Selain itu, individu dengan kondisi kelebihan zat besi, asam urat tinggi, atau gangguan ginjal perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum menambahkan jeroan ke dalam menu harian. Kandungan purin dan mineral tertentu dalam organ hewan dapat memperberat kondisi medis tersebut apabila tidak dikontrol.
Di sisi lain, bagi kelompok dengan kebutuhan gizi tinggi seperti anak-anak dan remaja, jeroan dapat menjadi pilihan sumber nutrisi yang efisien dan terjangkau. Nilai gizinya yang padat juga dinilai relevan dalam menjawab tantangan pemenuhan kebutuhan pangan global yang terus meningkat.
Tantangan terbesar kini terletak pada penerimaan konsumen terhadap cita rasa dan tekstur jeroan yang khas. Para ahli menyarankan pendekatan kreatif, seperti mengolahnya dalam bentuk cincangan halus yang dicampur sup, saus, atau hidangan modern lainnya, agar lebih mudah diterima lidah masa kini.
Dengan meningkatnya kesadaran akan gizi dan pengurangan limbah pangan, jeroan berpeluang kembali menempati posisi penting di meja makan. Upaya ini tidak hanya memperkaya asupan nutrisi, tetapi juga mendorong pemanfaatan hewan ternak secara lebih utuh dan bertanggung jawab.