Perubahan Jam Tidur Tingkatkan Risiko Penyakit Jantung

  • 09 Mar 2026 11:34 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor - Perubahan waktu yang terjadi saat penerapan daylight saving time ternyata tidak hanya membuat banyak orang merasa mengantuk atau lelah. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pergeseran waktu satu jam saja dapat memengaruhi ritme biologis tubuh dan berdampak pada kesehatan jantung.

Dilansir dari website www.nationalgeographic.com bahwa Daylight saving time merupakan kebijakan pengaturan waktu yang bertujuan memaksimalkan pemanfaatan sinar matahari pada musim semi dan musim panas. Di beberapa negara seperti Amerika Serikat, kebijakan ini membuat jam dimajukan satu jam sehingga aktivitas masyarakat berlangsung lebih lama saat siang hari.

Namun, perubahan kecil tersebut dapat mengganggu ritme sirkadian tubuh, yaitu sistem biologis yang mengatur siklus tidur, bangun, dan berbagai proses fisiologis selama 24 jam. Ketika waktu berubah secara tiba-tiba, tubuh memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri dengan pola baru tersebut.

Menurut para peneliti di Vanderbilt University Medical Center, tidur memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan jantung. Saat seseorang tidur, sistem kardiovaskular mendapatkan kesempatan untuk beristirahat dan melakukan pemulihan secara alami.

Jika kualitas tidur terganggu atau durasinya berkurang, tubuh akan mengalami peningkatan hormon stres, tekanan darah, serta peradangan. Kondisi tersebut dapat memaksa jantung bekerja lebih keras dan dalam jangka panjang meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa tidur kurang dari enam jam per malam dapat meningkatkan risiko serangan jantung hingga sekitar 20 persen. Selain itu, gangguan tidur dalam jangka panjang juga berkaitan dengan peningkatan berat badan, tekanan darah tinggi, dan gangguan irama jantung.

Penelitian terbaru pada 2026 bahkan menemukan hubungan antara durasi tidur yang pendek dengan munculnya fibrilasi atrium, yaitu gangguan irama jantung yang tidak teratur. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko pembentukan gumpalan darah yang berpotensi memicu stroke.

Para ahli juga menekankan bahwa bukan hanya jumlah tidur yang penting, tetapi juga konsistensi waktu tidur setiap hari. Jadwal tidur yang berubah-ubah dapat meningkatkan risiko penyakit jantung hingga dua kali lipat dibandingkan mereka yang memiliki pola tidur teratur.

Gangguan ritme sirkadian juga berdampak pada kemampuan tubuh mengatur tekanan darah dan metabolisme. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan diabetes.

Penelitian ini menunjukkan bahwa pekerja yang sering bekerja pada malam hari memiliki risiko penyakit kardiovaskular sekitar 17 persen lebih tinggi. Hal ini terjadi karena ritme biologis tubuh terus-menerus tidak selaras dengan pola terang dan gelap alami.

Karena itu, para ahli menyarankan masyarakat untuk menjaga kualitas tidur dengan baik, terutama ketika terjadi perubahan waktu seperti daylight saving time. Jika gangguan tidur berlangsung lama, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atau ahli tidur dapat menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan jantung.

Rekomendasi Berita