Konten Deepfake Grok Intai Pengguna X

  • 10 Jan 2026 13:43 WIB
  •  Bone

RRI.CO.ID, Bone - Kehadiran Artificial Intelegent (AI) didasarkan pada keinginan manusia untuk meningkatkan efisiensi, memecahkan masalah kompleks, dan memperluas kemampuan kita. Namun, dalam prosesnya, tidak sedikit orang menyalahgunakan kemampuan AI untuk melakukan hal yang berpotensi merugikan orang lain, seperti Grok.

Di media sosial, Grok digunakan untuk memanipulasi foto menjadi konten sensitif yang bersifat asusila. Hal ini tentu mengarah pada pelecehan digital dan membuat perempuan dan anak dibawah umur menjadi bulan-bulanan aksi jahat itu.

Sejumlah negara telah mengambil langkah tegas terhadap Grok yang terintegrasi langsung dengan platform medis sosial X (dulunya disebut Twitter). Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyatakan tidak menutup kemungkinan akan menjatuhkan sanksi, hingga pemutusan akses layanan bila pengamanan dan moderasi tidak segera diperbaiki.

Di sisi lain, Bareskrim Polri menegaskan praktik rekayasa gambar non-konsensual berbasis AI masuk kategori deepfake dan dapat diproses pidana jika terbukti terjadi manipulasi data elektronik tanpa izin pemiliknya. Beberapa content creator menyatakan protes pada Grok melalui konten mereka, sekaligus mengedukasi publik akan ancaman yang bisa timbul.

Dikutip dari nurosoft.id, Grok adalah chatbot AI yang dikembangkan oleh xAI, sebuah perusahaan riset kecerdasan buatan yang didirikan Elon Musk pada tahun 2023. Grok dirancang untuk bersaing langsung dengan model-model besar lainnya seperti ChatGPT (OpenAI), Claude (Anthropic), dan Gemini (Google DeepMind).

Namun, Grok memiliki ciri khas tersendiri: gaya respons yang lebih bebas, berani, dan blak-blakan—mirip dengan karakter Musk di media sosial. Tim xAI secara eksplisit menyatakan bahwa mereka ingin membangun kecerdasan buatan yang bersifat ‘curious’, terbuka, dan transparan.

Dalam situs resminya, xAI menulis bahwa misi mereka adalah “memahami realitas” secara ilmiah, filosofis, dan teknologis. Musk juga mengindikasikan bahwa dia ingin Grok menjadi alternatif dari AI besar lainnya yang menurutnya terlalu dibatasi oleh “woke culture” atau sensor moral tertentu.

Rekomendasi Berita