Menjelajah Jejak Kejayaan Bone Lewat Museum Lapawawoi

  • 24 Jun 2025 17:24 WIB
  •  Bone

KBRN, Bone: Museum Lapawawoi, yang terletak di jantung Kota Watampone, menjadi saksi bisu perjalanan sejarah panjang Kerajaan Bone. Museum ini menyimpan ribuan cerita dari masa lalu, terwujud dalam berbagai koleksi peninggalan kerajaan seperti keris pusaka, pakaian kebesaran raja, perhiasan, hingga dokumen sejarah penting. Keberadaannya menjadi pengingat bahwa Bone pernah berdiri sebagai salah satu kerajaan besar di kawasan timur Nusantara.

Kepala UPT Museum Lapawawoi, Ade Irmayani, SE, mengungkapkan bahwa museum ini bukan sekadar tempat menyimpan benda lama, tetapi ruang edukasi budaya yang hidup. “Kami ingin masyarakat, khususnya generasi muda, mengenal sejarah Bone tidak hanya dari buku, tapi lewat benda-benda otentik yang memiliki nilai historis dan filosofis tinggi,” jelasnya, Selasa (24/6/2025).

Museum La Pawawoi memiliki koleksi kurang lebih 331, benda-benda yang ada di museum La Pawawoi antara lain Bessi Sikkoi atau besi berupa cincin yang saling mengait, Lansereng atau landasan untuk menempa besi milik Raja Bone kedua La Ummasa Petta Panre Bessie yang memerintah pada tahun 1365-1368. Juga terdapat koleksi peralatan milik Raja dan istana, duplikat rambut Arung Palakka dan foto-foto raja Bone dengan keturunannya.

Dipamerkan juga stempel Kerajaan Bone dan miniatur perahu phinisi, sementara itu koleksi yang tak kalah penting adalah keberadaan silsilah Kerajaan Bone dari awal hingga akhir yang digambarkan dengan foto Raja Bone dan keturunannya. Tampak juga berbagai perlengkapan kerajaan seperti payung kebesaran, senjata tradisional, dan alat musik klasik. Masing-masing benda memiliki kisah yang lekat dengan perjuangan, diplomasi, dan kebesaran tokoh-tokoh Bone di masa lalu. Tak sedikit pelajar dan peneliti datang untuk mendalami nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Ade Irmayani menambahkan, saat ini pihak museum tengah berbenah dengan menghadirkan tata ruang yang lebih informatif dan visual. Papan keterangan kini dilengkapi narasi yang lebih mudah dipahami oleh pengunjung umum. “Kami ingin membuat museum ini menjadi tempat yang ramah, bukan hanya bagi peneliti, tapi juga bagi keluarga, pelajar, hingga wisatawan,” ungkapnya.

Selain sebagai ruang pamer, Museum Lapawawoi juga aktif menggelar edukasi publik, seperti tur sejarah. Program ini diharapkan dapat mendekatkan masyarakat pada identitas lokal sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan leluhur.

Menjelajah Museum Lapawawoi bukan sekadar melihat benda kuno, tapi membuka tabir kejayaan Bone yang sarat nilai luhur. Di tengah gempuran era digital, museum ini hadir sebagai ruang refleksi yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan Bone yang lebih berbudaya.

Rekomendasi Berita