Kerak Telur Dimasak dengan Teknik Membalikan Wajan
- 30 Jan 2026 14:19 WIB
- Bovendigoel
RRI.CO.ID, Boven Digoel - Kerak Telur bukan sekadar jajanan kaki lima ia adalah simbol identitas budaya masyarakat Betawi di Jakarta. Dikenal dengan rasa gurih yang khas dan cara pembuatan yang atraktif, kuliner ini tetap menjadi primadona di tengah gempuran makanan modern.
Lahir pada masa kolonial Belanda, Kerak Telur tercipta secara tidak sengaja dari hasil eksperimen warga asli Betawi di kawasan Menteng. Awalnya, masyarakat mencoba mengolah kelapa yang berlimpah menjadi beragam penganan. Sejak tahun 1970-an, Kerak Telur mulai dijajakan di Monumen Nasional (Monas) dan bertransformasi menjadi ikon kuliner Jakarta hingga saat ini.
1. Keunikan Bahan dan Pembuatan
Hal yang paling membedakan Kerak Telur dengan dadar telur biasa adalah teknik memasaknya.
· Tanpa Minyak: Dimasak di atas tungku arang menggunakan wajan kecil tanpa minyak goreng sedikitpun.
· Teknik Membalik Wajan: Saat setengah matang, wajan akan dibalik menghadap bara api arang agar permukaan telur matang merata dan menciptakan tekstur "kerak" yang renyah (gosong sedikit namun nikmat).
Bahan Utama:
1. Beras Ketan Putih: Memberikan tekstur kenyal dan mengenyangkan.
2. Telur Bebek/Ayam: Telur bebek lebih disukai karena memberikan rasa yang lebih gurih dan tekstur lebih tebal.
3. Ebi (Udang Kering): Memberikan aroma laut dan rasa asin alami.
4. Serundeng: Parutan kelapa sangrai yang telah dibumbui.
5. Bumbu Halus: Terdiri dari cabai merah, kencur, jahe, merica, garam, dan gula.
2. Filosofi di Balik Rasa
Rasa Kerak Telur yang kaya mencerminkan percampuran budaya di Jakarta. Perpaduan gurihnya ebi, manisnya serundeng, dan aroma asap dari arang melambangkan sifat masyarakat Betawi yang terbuka namun tetap mempertahankan tradisi asli.