Pengaruh Budaya Pop terhadap Bahasa Sehari-hari
- 25 Feb 2026 12:46 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittinggi - Di era digital seperti sekarang, budaya pop mulai dari musik, film, serial TV, hingga media sosial memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan sehari-hari, termasuk bahasa yang digunakan.
Kata-kata, ungkapan, bahkan gaya bicara sering kali berubah karena tren yang sedang populer. Banyak orang mungkin tidak sadar, tapi bahasa sehari-hari kita kini dipenuhi oleh pengaruh budaya pop. Contohnya, beberapa tahun terakhir istilah “cringe” menjadi sangat populer di kalangan anak muda.
Kata ini berasal dari bahasa Inggris dan awalnya digunakan dalam komunitas online untuk mengekspresikan rasa jijik atau malu. Kini, kata “cringe” masuk ke percakapan sehari-hari, bahkan di luar internet. Anak muda bilang, “Waduh, itu bener-bener cringe deh,” ketika menilai sesuatu yang canggung atau memalukan. Fenomena ini menunjukkan bagaimana budaya pop bisa menyerap istilah asing dan membuatnya menjadi bagian dari bahasa lokal.
Selain kata-kata, budaya pop juga memengaruhi gaya bicara. Contohnya, banyak orang meniru cara berbicara idol K-pop atau karakter film populer. Ada yang menambahkan intonasi tertentu, ekspresi khas, atau bahkan mengadopsi beberapa kata dalam bahasa asing.
Misalnya, ungkapan “I’m done” atau “so extra” yang tadinya hanya populer di media sosial kini muncul dalam percakapan sehari-hari. Generasi muda menggunakan istilah ini untuk mengekspresikan perasaan mereka dengan cara yang terasa kekinian.
Musik dan film juga memberikan dampak. Lirik lagu populer sering menjadi bahan kutipan sehari-hari. Misalnya, kalimat dari lagu favorit bisa muncul di media sosial, caption Instagram, atau bahkan di percakapan santai.
“Don’t forget to smile today” atau “We’re gonna be legends” bukan hanya lirik, tapi sudah menjadi ungkapan motivasi yang sering diulang-ulang. Hal ini menunjukkan bagaimana budaya pop bisa memperkaya bahasa, menambah variasi ekspresi, dan membuat percakapan lebih hidup.
Namun, ada sisi negatifnya. Terlalu sering meniru bahasa asing atau kata-kata dari budaya pop bisa membuat seseorang kurang nyaman menggunakan bahasa ibu. Beberapa orang bahkan merasa kebingungan membedakan kapan harus memakai bahasa lokal dan kapan memakai kata-kata ala pop culture.
Ini menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi generasi muda yang ingin tetap terdengar “kekinian” tapi juga menjaga bahasa nasional. Yang menarik, pengaruh budaya pop tidak selalu menggeser bahasa asli. Sebaliknya, ia bisa menciptakan kombinasi unik.
Banyak orang menggabungkan bahasa Indonesia dengan istilah asing dari budaya pop, seperti “Aku lagi lowkey excited nih,” atau “Nggak mau ikut, terlalu extra deh.” Campur kode seperti ini menunjukkan fleksibilitas bahasa dan bagaimana masyarakat mampu menyesuaikan diri dengan tren global tanpa kehilangan identitas.
Pada akhirnya, budaya pop memang memengaruhi bahasa sehari-hari, tapi pengaruh itu tidak selalu negatif. Bahasa menjadi lebih ekspresif, kreatif, dan terasa hidup. Yang penting adalah kesadaran untuk tetap menjaga kemampuan berbahasa dengan baik, memahami konteks, dan menyesuaikan gaya bicara sesuai situasi. Dengan begitu, kita bisa tetap menikmati budaya pop sekaligus menghargai bahasa sendiri. (UGP/YPA)