Bukittinggi Kota Perjuangan Heritage Game 2026 Segera Digelar

  • 03 Feb 2026 14:04 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Pada 8 Februari 2026 ini akan dilaksanakan Bukittinggi Kota Perjuangan Heritage Game di Kota Bukittinggi. Ini adalah sebuah kegiatan wisata jalan kaki sambil olahraga dan belajar mengenali seluk-beluk kota yang dikemas dalam tajuk permainan pusaka (heritage game). Peserta akan diajak mengunjungi jejak-jejak perjuangan yang tersebar di banyak sudut kota Bukittinggi. 

Permainan akan dimulai dari Jam Gadang dan peserta sesuai kelompok akan menyebar ke 6 (enam) simbol-simbol perjuangan, antara lain Los Saudagar, Tugu Monumen Tuanku Imam Bonjol, Tugu Perjuangan Rakyat Kamang 1908, Museum Perjuangan Tri Daya Eka Dharma, Taman Monumen Proklamator Bung Hatta, dan Tugu Pahlawan Tak Dikenal. 

Peserta juga akan melalui beberapa tangga penghubung Pasar Atas dan daerah sekitarnya, yaitu Janjang Pasanggrahan, Janjang Minang, dan Janjang Gudang. Lalu, kembali ke Jam Gadang.

Kegiatan ini merupakan pengembangan dan penyempurnaan dari kegiatan-kegiatan wisata jalan kaki terdahulu yang sudah dimulai sejak empat tahun terakhir. Dengan konsep permainan yang baru ini, wisata jalan kaki dengan pemandu yang terbatas maksimal 25 orang bisa diperbesar menjadi 100 orang, bahkan 1.000 orang, dengan jangkauan area permainan yang lebih luas. Kegiatan ini merupakan persembahan dari Logonama Studio, Tourpreneur, Urbanamix, Bukittinggiku, dan Klub Olahraga Gembira.

Bukittinggi Kota Perjuangan

Bukittinggi dikenal sebagai “Kota Perjuangan” karena perannya yang vital dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, terutama sebagai ibukota Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) pada 19 Desember 1948. Sebagai tempat kelahiran tokoh bangsa seperti Mohammad Hatta, kota ini menjadi pusat perlawanan terhada Belanda saat Yogyakarta jatuh.

Ada beberapa poin-poin pentng Bukittinggi sebagai Kota Perjuangan. Pertama, Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) pada 19 Desember 1948. Bukittinggi ditunjuk menjadi ibukota PDRI setelah Agresi Militer Belanda II menguasai Yogyakarta, menjadikannya penyelamat kelangsungan negara. 

Kedua, Hari Bela Negara: Peristiwa PDRI di Bukittinggi mendasari ditetapkannya hari Bela Negara berdasarkan keputusan Presiden RI pada 18 Desember 2006. 

Ketiga, basis pertahanan kolonial dan perjuangan: Dahulu dikenal sebagai Fort De Kock. Kota ini merupakan pusat militer Belanda yang kemudian direbut dan diubah menjadi basis perjuangan kemerdekaan. Keempat, lahirnya tokoh bangsa: Kota ini merupakan tempat kelahiran proklamator. Mohammad Hatta dan Assaat, pejabat Presiden RI. 

Kelima, Ibukota Sumatra: Pernah menjadi ibukota Provinsi Sumatra dan Sumatra Tengah, menegaskan posisi strategisnya dalam sejarah administrasi negara. Kini, Bukittnggi terus merawat sejarah ini melalui berbagai situs bersejarah, dan upaya pengukuhan sebagai Kota Perjuangan untuk edukasi generasi muda. (PB/YPA)

Rekomendasi Berita